PASURUAN, Radar Bromo - Pemerintah Kabupaten Pasuruan melalui Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnak Keswan) terus berupaya meningkatkan komitmennya dalam memfasilitasi para peternak, agar dapat meningkatkan kapasitasnya.
Hal ini dilakukan untuk mendukung kualitas peternakan yang lebih baik.
Lewat Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT), Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan mengadakan sekolah lapang yang bekerja sama dengan Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya (UB).
Peserta kelas olahan hasil peternakan mendapatkan kesempatan belajar langsung di Laboratorium Teknologi Hasil Ternak Fakultas Peternakan UB.
Kepala Sekolah Lapang Peternakan Terintegrasi Kabupaten Pasuruan tahun ini, Prof. Dr. Ir. Tri Eko Susilorini, M.P., ASEAN Eng., mengatakan bahwa program Sekolah Lapang Peternakan Terintegrasi diikuti oleh 350 peternak yang terbagi dalam 14 kelas.
Yakni mencakup komoditas sapi perah, sapi potong, kambing, domba, unggas petelur, unggas pedaging, hingga kelas olahan hasil peternakan.
“Seluruh peserta telah mengikuti pembelajaran komprehensif yang mencakup manajemen budi daya, kesehatan hewan, pengolahan pakan dan limbah, analisis usaha, pemasaran, hingga praktik lapang di Teaching Farm Fakultas Peternakan UB,” ungkapnya.
Di sisi lain, Kepala Dinas Peternakan Kabupatan Pasuruan, drh Ainur Alfiyah mengatakan dalam sekolah itu, para peserta mempraktikkan pengolahan produk bernilai ekonomi tinggi seperti es krim, yoghurt, dodol susu, cured egg yolk, hingga bakso.
“Program ini kami harapkan mampu mendorong diversifikasi usaha, peningkatan kualitas produk, dan daya saing pelaku usaha olahan hasil peternakan di Kabupaten Pasuruan,” ujarnya.
Dalam laporan Asisten Perekonomian dan Pembangunan, disampaikan bahwa sektor peternakan Kabupaten Pasuruan menunjukkan peran strategis, terutama dengan populasi sapi perah mencapai 89.884 ekor.
Angka tersebut menempatkan Kabupaten Pasuruan sebagai penghasil susu sapi terbesar di Jawa Timur, sekaligus penopang suplai susu nasional.
Selain itu, populasi sapi potong sebesar 87.545 ekor, pertumbuhan populasi kambing hingga 23 persen mencapai 102.200 ekor, serta potensi pengembangan domba yang tetap signifikan dengan populasi 51.519 ekor.
Dengan modal tersebut, diketahui bahwa Kabupaten Pasuruan sangat berpotensi dalam menghadirkan peternakan yang berkualitas tinggi.
Sehingga, hasil produk olahannya bisa berdaya saing di pasar nasional maupun internasional.
Harapannya, selain dapat meningkatkan ekonomi masyarakat, produk olahan yang berkualitas dapat menjadi salah satu produk unggulan khas Kabupaten Pasuruan yang dikenal luas oleh masyarakat.
Lebih lanjut, Alfiyah-sapaan dr Ainur Alfiah, menjelaskan keseluruhan aktivitas peternakan ini, dibangun di atas kontribusi 81.000 rumah tangga peternak.
Hal ini menjadikan sektor peternakan sebagai pilar penting ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.
“Melalui kegiatan ini, Pemerintah Kabupaten Pasuruan menegaskan komitmennya untuk menghadirkan program peningkatan kapasitas SDM peternakan yang berkelanjutan. Didukung sinergi antara pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan pelaku usaha,” terangnya. (ran/one/*)
Editor : Jawanto Arifin