PASURUAN, Radar Bromo - Virus penyakit mulut dan kuku (PMK) yang merebak di sejumlah daerah, turut menjadi atensi Pemkot Pasuruan.
Berbagai strategi dilakukan, dalam upaya pengendalian dan pencegahan serangan penyakit tersebut. Langkah ini terbukti berhasil, di mana penyebaran virus PMK bisa ditekan.
Sepanjang tahun ini, hanya ditemukan empat kasus hewan ternak dengan gejala PMK di Kota Pasuruan.
Temuan itu didapati di wilayah Kecamatan Bugulkidul dan Gadingrejo. Meski begitu, tidak ada hewan ternak yang mati karena virus PMK. Semua hewan ternak berhasil diobati hingga sembuh.
PMK adalah penyakit menular akut yang sangat berbahaya bagi hewan berkuku belah seperti sapi, kerbau, kambing, dan domba.
Penyakit ini ditandai dengan demam tinggi, lepuh pada mulut dan kaki, serta penurunan produksi susu.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kota Pasuruan, Yudhi Hanendro menuturkan virus PMK sangat berbahaya.
Karena dapat berdampak pada segala sendi. Bisa menyebabkan kerugian besar bagi peternak, akibat penurunan produksi susu dan daging. Serta bisa memicu kematian hewan.
Virus ini juga sangat mengancam ketersediaan pangan hewani. Terutama di daerah yang sangat bergantung pada sektor peternakan.
Penyebaran virusnya pun sangat cepat. Cukup melalui kontak langsung dengan hewan yang sakit, serta melalui perantara seperti manusia, kendaraan, maupun peralatan.
"Di awal tahun, kami telah melakukan upaya pencegahan dan penanggulangan PMK di seluruh wilayah Kota Pasuruan di empat kecamatan," katanya.
Apalagi, di Kota Pasuruan, jumlah peternak cukup banyak. Ada 61 peternak yang tersebar di empat kecamatan dengan populasi sapi mencapai 168 ekor.
Dan dari hasil monitoring, ditemukan tiga ekor sapi yang bergejala PMK. Tiga ekor ditemukan di Kecamatan Bugulkidul dan satu ekor terjadi di Kecamatan Gadingrejo.
Upaya yang dilakukan oleh DPKP adalah pelaksanaan vaksinasi sercara berkala. Di mana, vaksinasi dapat mengurangi tingkat kematian akibat PMK hingga 90 persen.
Selain itu, vaksinsi juga dapat mengurangi tingkat penularan virus dan mempercepat pemulihan hewan yang terinfeksi.
Langkah kedua, dengan penerapan komunikasi, informasi dan edukasi (KIE).
Penerapan KIE ini, bermanfaat untuk menambah pengetahuan peternak, memahami gejala penyakit hewan sejak dini dan cara mencegah penyebaran penyakit tersebut.
Tak lupa, pemberian obat-obatan dan vitamin. Karena hal tersebut, dapat meringankan gejala, mencegah infeksi sekunder, meningkatkan daya tahan tubuh, dan mempercepat penyembuhan.
"Terakhir, dengan melakukan biosekuriti dan pemberian disinfektan dengan menjaga kebersihan kandang. Melaksanakan disinfeksi kandang, kendaraan, dan peralatan," sebut Yudhi.
Bagi hewan ternak yang bergejala PMK, bisa dilakukan sejumlah tindakan. Diantaranya, bisa melapor ke Petugas DPKP, melakukan isolasi ternak yang sakit, dan pemberian perawatan dengan obat-obatan, nutrisi, perawatan luka dan melaksanakan sanitasi dan disinfeksi pada kandang, peralatan, dan lingkungan sekitar.
"Juga dilaksanakan monitoring dan evaluasi, KIE kepada peternak terkait penanganan dan penanggulangan penyakit. Termasuk pelaksanaan vaksinasi terhadap ternak yang sehat," jelas Yudhi. (riz/one/*)
Editor : Jawanto Arifin