PASURUAN, Radar Bromo-Setelah menentukan nomine Reka Karsa Cipta (RKC) 2025, tahapan lomba inovasi ini berlanjut ke verifikasi lapangan (verlap).
Di hari pertama Senin (15/12), even kerja bareng antara Bappeda Kota Pasuruan dan Jawa Pos Radar Bromo ini, mengunjungi delapan titik dari 14 nomine di tiga kategori.
Tiga dewan juri yang menilai bahkan sampai harus membedah inovasi para nomine sampai detail demi mengetahui terobosan yang dibuat.
Dewan juri mendapat sambutan hangat dari para nomine tiap berkunjung. Seperti saat berkunjung ke Sekolah Dasar Negeri (SDN) Purutrejo 2, Kota Pasuruan.
Sekolah tersebut menampilkan inovasi bertajuk “Pentas Gemilang: Penganyam Tas Limbah Generasi Cemerlang,”
Sebuah karya yang berfokus pada pemanfaatan limbah non-organik menjadi produk kerajinan tas bernilai guna.
Koordinator RKC SDN Purutrejo 2, Lukmanatul Hikma, menyampaikan bahwa inovasi ini didorong oleh tujuan yang lebih besar dari sekadar meraih juara.
“Tujuan utama kami meluncurkan 'Pentas Gemilang' ini adalah membentuk peserta didik yang sadar lingkungan sejak dini, menanamkan kebiasaan mengolah sampah, dan mengubahnya menjadi karya yang kreatif dan bernilai ekonomi,” ujar Lukmanatul Hikma.
Kepala Sekolah SDN Purutrejo 2, Asmaul Khusna, menegaskan komitmen sekolah terhadap keberlanjutan inovasi ini. Ia berharap program ini tidak hanya berhenti pada ajang lomba, tetapi menjadi budaya sekolah.
“Keberlanjutan inovasi ini kami tegaskan. Jadi, ketika ada limbah sampah, anak-anak secara otomatis akan memilah dan membawa inovasi yang bermanfaat. Ini adalah upaya kami untuk menumbuhkan kreativitas anak-anak,” jelas Asmaul Khusna.
Lebih lanjut, Asmaul Khusna menekankan pentingnya keterampilan praktis bagi masa depan para siswa.
“Kami menekankan kepada anak-anak agar punya bekal keterampilan kelak kalau sudah lulus dari SDN Purutrejo 2 ini, bekal yang tidak hanya dari sisi akademik, tapi juga life skill yang mumpuni,” tutupnya.
Verifikasi lapangan ini menjadi momen penting untuk mengukur dampak nyata inovasi "Pentas Gemilang" dalam membentuk karakter dan keterampilan siswa, sekaligus berkontribusi pada solusi masalah lingkungan melalui kreasi seni.
Selain ke kategori pendidikan, verlap juga dilakukan ke kantor DInas Perikanan Kota Pasuruan yang membuat inovasi Ayo Mancing. Sebuah inovasi untuk mendukung gerakan makan ikan untuk mencegah stunting.
Mualif Arif yang turun langsung mempresentasikan inovasi tersebut. Dia didampingi jajarannya dan pelaku UMKM pengolahan ikan, menjawab detail pertanyaan dari dewan juri.
Keterangan: Berita ini ditulis Rahmawati dan Asadul Umat, mahasiswa magang dari Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Pasuruan. (radar bromo)
Editor : Fandi Armanto