TUTUR, Radar Bromo - Sehari setelah longsoran besar menimpa Dusun Tlogosari, Desa Tlogosari, Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan, aktivitas warga belum kembali normal.
Warga masih berjibaku membersihkan sisa material tanah yang menutup akses dan merusak bangunan.
Fokus penanganan kini bergeser pada upaya evakuasi lanjutan, pemulihan lingkungan, dan mitigasi agar longsor susulan tidak terjadi.
Dampak paling berat dirasakan keluarga Sueb, 42, yang meninggal dunia akibat tertimbun longsoran pada Jumat (5/12).
Area dapur rumah korban dan kandang ternak yang berada tepat di bawah tebing kini dipenuhi gundukan tanah setinggi hampir dua meter.
Kerusakan dinilai cukup parah, dan warga sekitar turun bergantian membantu membersihkan sisa-sisa longsoran.
Kapolsek Nongkojajar, AKP Budi Luhur Sedjati, menjelaskan bahwa perhatian aparat saat ini tertuju pada memastikan lokasi aman dan tidak ada retakan baru di lereng.
“Kami bersama perangkat desa melakukan pengecekan kontur tanah. Musim hujan masih panjang, sehingga perlu langkah antisipatif untuk mencegah longsor susulan,” ujarnya.
Proses evakuasi pada hari kejadian berlangsung dramatis. Material longsor dengan lebar sekitar 20 meter menutup area dapur dan kandang sapi.
Sueb yang saat itu berusaha menyelamatkan ternaknya sempat mengevakuasi lima sapi, namun longsor susulan yang datang tiba-tiba pukul 18.00 WIB menimbunnya bersama satu ekor sapi terakhir.
Saat pencarian dilakukan oleh anggota Polsek Nongkojajar bersama warga, korban ditemukan pada pukul 19.30 WIB dalam kondisi meninggal.
Di sisi lain, warga kini mulai memperbaiki jalur air yang rusak akibat longsoran.
Saluran drainase darurat digali untuk mengalihkan aliran air hujan dari atas tebing.
Relawan dan aparat juga memasang pembatas sederhana untuk menahan tanah agar tidak kembali turun jika hujan mengguyur.
Kerugian material dihitung mencapai puluhan juta rupiah. Dapur rumah Sueb mengalami kerusakan berat dengan estimasi kerugian sekitar Rp20 juta.
Sedangkan dapur rumah milik warga lain, Malikah 50, turut terdampak dengan taksiran kerugian sekitar Rp10 juta.
Kandang sapi yang roboh kini menjadi perhatian utama peternak sekitar. Warga mulai membersihkan puing untuk memastikan ternak lain aman dari potensi longsor.
Sementara itu, keluarga korban menolak autopsi dan langsung memakamkan Sueb pada malam hari.
Warga desa juga menggelar doa bersama sebagai bentuk solidaritas sekaligus penguatan moral di tengah bencana.
Hingga Sabtu siang, sebagian material longsor masih menumpuk. Alat manual menjadi andalan warga untuk membersihkan lokasi karena medan sempit membuat alat berat sulit masuk. (tom/one)
Editor : Jawanto Arifin