BANGIL, Radar Bromo - Pemerintah Kabupaten Pasuruan mulai menyoroti indikasi kebocoran Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang membuat penerimaan tak kunjung maksimal.
Langkah ini menjadi penting di tengah kebijakan pemotongan transfer pemerintah pusat, yang membuat daerah harus mencari sumber pendanaan alternatif untuk menjaga laju pembangunan.
Salah satu sektor yang kini disorot tajam adalah retribusi parkir. Pemerintah menilai kontribusinya terhadap PAD masih jauh dari harapan.
Pemkab sedang melakukan kajian mendalam untuk mengukur penerimaan riil di lapangan sekaligus memetakan potensi kebocoran.
Evaluasi dilakukan mulai dari titik parkir resmi, pola kerja juru parkir, hingga mekanisme setoran ke kas daerah.
Selain parkir, sektor penyewaan aset daerah juga menjadi perhatian. Sejumlah aset dinilai memiliki potensi retribusi lebih besar apabila dikelola secara lebih efektif dan transparan.
Pemerintah mendorong optimalisasi aset agar tidak hanya menjadi beban pemeliharaan, tetapi mampu menghasilkan pendapatan tambahan.
Upaya lainnya adalah pembaruan data Nomor Objek Pajak (NOP). Pemkab menilai banyak perubahan fungsi lahan—misalnya sawah yang berubah menjadi perumahan—belum diikuti pembaruan data.
Akibatnya terjadi ketidaktepatan klasifikasi objek pajak, yang berdampak pada berkurangnya penerimaan pajak daerah.
Pendataan ulang dilakukan untuk memastikan tarif pajak sesuai kondisi faktual di lapangan.
Bupati Pasuruan M Rusdi Sutejo menegaskan bahwa optimalisasi PAD menjadi prioritas pemerintah daerah di tengah dinamika fiskal saat ini.
“Kita bicara potensi. Ada potensi penerimaan PAD yang masih kurang maksimal dan ini jadi perhatian. Ketika transfer dari pusat berkurang, daerah harus mencari sumber pembiayaan lain,” ujarnya.
Menurut Bupati, pemerintah daerah akan memperkuat pendataan dan sistem monitoring untuk menutup celah kebocoran.
“Retribusi parkir, penyewaan aset, hingga pembaruan data NOP sedang kita proyeksikan sebagai langkah peningkatan PAD agar lebih tepat sasaran,” tegasnya. (tom/one)
Editor : Moch Vikry Romadhoni