Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Banjir di Pasuruan Bikin Ribuan Rumah di Kota-Kabupaten Pasuruan Terendam, Penyebabnya Karena Ini

Fuad Alyzen • Rabu, 26 November 2025 | 14:12 WIB
PANTAU KONDISI: Personel BPBD Kota Pasuruan menaiki perahu kerat untuk mengevakuasi warga di Kampung Rujak Gadung, Kelurahan Karangketug, Gadingrejo, yang butuh per
PANTAU KONDISI: Personel BPBD Kota Pasuruan menaiki perahu kerat untuk mengevakuasi warga di Kampung Rujak Gadung, Kelurahan Karangketug, Gadingrejo, yang butuh per

PASURUAN, Radar Bromo - Prediksi Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG) akan hujan deras kembali tepat. Hujan deras melanda wilayah Pasuruan pada Senin (24/11) sore.

Akibatnya, sejumlah perkampungan di Kota dan Kabupaten Pasuruan, terendam banjir. Hujan juga membuat longsor di dataran tinggi di wilayah Kabupaten Pasuruan.

Bencana banjir dan longsor terjadi setelah hujan dengan intensitas tinggi turun sejak sore hingga malam hari. Sejumlah sungai meluap dan membuat ribuan rumah terendam.

Di Kota Pasuruan, hujan sejatinya turun dengan durasi yang tak lama. Namun hujan yang turun dari wilayah atas, membuat sungai meluap.

Salah satunya Sungai Welang dan membuat sejumlah kelurahan di Kota Pasuruan dan beberapa desa di Kabupaten Pasuruan, terendam air sejak Senin malam.

BPBD bahkan mencatat debit Sungai Welang tertinggi 640 sentimeter. Akibatnya, air meluap sampai menggenang di empat kelurahan. Ketinggiannya beragam dan membuat warga harus diungsikan.

Genangan air meninggi dan bertahan lama disebabkan air laut sedang pasang. Genangan air tertinggi sejak pukul 19.00 sampai Selasa (25/11) pukul 01.00 sebelum akhirnya  surut.

Banjir akibat luapan sungai paling parah terjadi di Kelurahan Karangketug, Kecamatan Gadingrejo. Di wilayah ini air menggenang di RT 1 sampai 7/RW dan membuat 1. 442 kepala keluaga atau 1.117 jiwa terdampak banjir. Rata-rata perkampungan terendam air setinggi 50 sampai 200 sentimeter. Di RT 3/RW 8, ada 22 kepala keluarga atau 68 jiwa terdampak. Tinggi genangan air 20 sampai 40 sentimeter.

“Tiga orang harus diungsikan ke rumah saudaranya. Dua lansia dan satu bayi di wilayah ini (Karangketug, red),” ujar personel bidang kedaruratan dan logistik BPBD Kota Pasuruan Anang Sururin.

Kemudian Kelurahan Randusari, Kecamatan Gadingrejo tepatnya di RT 2/RW 5, ada 21 kepala keluarga atau 66 jiwa terdampak banjir. Di kampong ini genangan air setinggi 20 sampai 30 sentimeter.

BERHARAP SURUT: Warga di Kelurahan Karangketug yang lingkungannya terendam genangan.
BERHARAP SURUT: Warga di Kelurahan Karangketug yang lingkungannya terendam genangan.

Sementara di Kelurahan Kerapyakrejo, Kecamatan Gadingrejo di RT 5/RW 1. 55 kepala keluarga, genangan air terdalam 120 sentimeter.

Anang menjelaskan, hujan dengan intensitas tinggi terjadi di wilayah Lawang dan Purwosari Pasuruan. Hujan turun sejak pukul 13.00 di wilayah tersebut. Karena durasinya lama dan tinggi pihaknya pun siap siaga memantau sungai welang.

Tak hanya Welang, dua sungai lainnya yakni Gembong, dan Petung juga dipantau. BPBD juga harus  mengerahkan personelnya untuk assemen di titik-titik rawan bencana agar mendapatkan informasi tentang kondisi lapangan dan kebutuhan warga.

Mobil rescue BPBD sebanyak 2 unit hingga personel dengan motor trail turut dikerahkan. Luapan di Gembong dan Petung membuat warga di Kelurahan Kepel, Kecamatan Bugul Kidul, tergenang. Namun tak separah seperti di Gadingrejo.

Selama banjir belum surut, BPBD berkoordinasi dengan lintas instansi. Mulai TNI, POLRI, PUPR, Dinas Kesehatan, Dinas Perhubungan, Dinas Sosial, BPBD Provinsi Jatim, PLN, Satpol PP, DPU SDA Jatim, Camat, lurah, Relawan PB dan RT/ RW dan tokoh masyarakat setempat.

Dari informasi yang dihimpun, warga di sekitar Sungai Welang mulai merasakan tempatnya bakal banjir, saat memasuki maghrib. Pukul 16.00 debit air Sungai Welang mulai meninggi. Hingga pukul 17.32 air sungai benar-benar meluap ke pemukiman.

Luapan semakin meluas dan meninggi di tiga kelurahan. Selain meluapnya Sungai Welang, perkampungan warga terendam banjir juga diakibatkan ada tanggul bagian bawah di wilayah Kelurahan Randusari yang jebol. Tanggul itu memiliki 20 meter.

“Dari tanggul jebol itu berdampak di sejumlah wilayah termasuk jalan raya Pantura,” ujarnya.

Ditambah dengan kondisi air laut pasang, genangan air cepat meninggi. Belum lagi kiriman air dari hulu yang tak berhenti. Debit di Sungai Welang terpantau tinggi sampai memasuki Selasa (25/11) pukul 01.00.

Selama proses evakuasi, BPBD dan PLN harus mematikan aliran listrik. Warga yang kategori lansia dan anak bayi diutamakan untuk dievakuasi. “Dievakuasi ke keluarganya yang juga tinghal di Karangketug. Yang dampak banjirnya tidak separah lansia dan anak bayi itu tinggal. Evakuasi menggunakan perahu. Ada tiga orang,” sebut Anang.

Setelah pukul 01.00 air berangsur surut. Sebab air laut juga surut. Menyusul itu air berangsur surut sampai pukul 02.30 listrik mulai dihidupkan kembali.

Sampai Selasa (5/11) pagi genangan air masih tersisa di Kondisi di RT 3/RW 2, Kelurahan Randusari dengan ketinggian 30 sentimeter. Dan wilayah Rujak Gadung, Kelurahan Karangketug genangan 35 sentimeter.

Luapan di Sungai Welang juga sempat melumpuhkan arus pantura, lantaran jalan raya Kraton tergenang air. Lalulintas dialihkan sejak pukul 20.00. Semua kendaraan besar tidak diperkenankan melintas dan harus melalui jalan tol. Air di jalan raya Kraton baru surut saat memasuki subuh.

Beralih ke Kabupaten Pasuruan, selain di Kecamatan kraton yang berbatasan dengan Kota Pasuruan, banjir terpantau di wilayah Kecamatan Gempol, Beji, Winongan. Banjir di Bangil, Beji dan Gempol disebabkan meluapnya daerah aliran sungai (DAS) Wrati.

Di Kraton akibat luapan Sungai Welang, genangan air terjadi di Desa Sidogiri (Dusun Sidogiri dan Sidogiri Barat) antara 5 sampai 70 sentimeter.; di Desa Tambakrejo, (Dusun Bulu, Batoan, Gayam, Madangan, Dungpasar) antara 30 sampai 100 sentimeter;  Desa Klampisrejo (Dusun Klampis Tengah) antara 20 sentimeter; dan Desa Slambrit (Dusun Krajan dan Pesangrahan) antara 10 sentimeter.

“Akibat hujan deras dan tanggul jebol,” sampai Kalaksa BPBD Kabupaten Pasuruan Sugeng Hariyadi saat ditanya tentang banjir di lokasi ini.

Meluapnya Sungai Welang juga berdampak di Kecamatan Pohjentrek. Tercatat banjir terjadi di Desa Sukorejo (Dusun Duyo, Rujaksinte dan Suko) antara 20 sampai 80 sentimeter.

Tak hanya di sungai welang, di DAS Wrati yang mengalami luapan, membuat wilayah Bangil terendam. Diantaranya di Desa Tambakan di Dusun Pengapon antara 30 sampai 40 sentimeter; Kelurahan Kalianyar antara 20 sampai 40 sentimeter. “Juga terjadi di Kecamatan Gempol di Dusun Tanjung Desa Gempol antara 15 sampai 45 sentimeter,” sebutnya.

DAS Wrati juga membuat genangan di Kecamatan Beji tepatnya di Desa Kedungringin (Dusun Kedungringin Tengah, Balongrejo dan Kersikan) antara 40 sampai 60 sentimeter. Begitu juga di Desa Kedungboto, di Dusun Kedungboto antara jalur alternatif Bangil-Beji, dengan ketinggian air antara 10 sampai 20 sentimeter.

Sugeng mengimbau masyarakat agar selalu meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana seperti cuaca ekstrem atau curah hujan tinggi. Selama cuaca ekstrem, hujan juga bisa meninmulkan angin kencang hingga longsor.

Kepala UPT PSDA Wilayah Sungai Welang-Pekalen Dinas PU Sumber Daya Air Provinsi Jawa Timur Anton Dharma menyampaikan, banjir yang terjadi di Pasuruan karena debit air meninggi lantaran hujan dengan intensitas tinggi di wilayah hulu Pasuruan. Ditambah parapet tanggul sungai welang rusak akibat tergerus aliran banjir di wilayah Desa Sukorejo, Kecamatan Pohjentrek, Kabupaten Pasuruan. “Debit banjir di kali Welang, hujannya ekstrem di hulu DAS,” ujarnya. (zen/fun)

Editor : Abdul Wahid
#jalan pantura #banjir #bpbd #tambakrejo #bangil