PASURUAN, Radar Bromo - Banyaknya kasus motor mbrebet usai diisi bahan bakar minyak (BBM) jenis pertalite mendapat sorotan tajam dari paguyuban ojek online Kota Pasuruan (Pojok Pas).
Mereka menuntut agar ada solusi dari keresahan dan dampak yang dialami masyarakat, termasuk ojol.
Tuntutan ini disampaikan aliansi Pojok Pas saat beraksi di depan kantor DPRD Kota Pasuruan, Selasa (4/10).
Mereka menyampaikan lima tuntutan pada wakil rakyat itu. Diantaranya, menolak kebijakan BBM yang bercampur etanol karena bisa merusak komponen mesin kendaraan.
Mereka minta agar DPRD kota Pasuruan bisa membantu memastikan bahwa BBM jenis pertalite yang disalurkan benar sesuai standar minimum ron 90 tanpa campuran lain.
Kedua, aliansi ojol ini mendesak pemerintah untuk mengkaji ulang secara transparan dengan melibatkan masyarakat sebelum mengimplementasikan BBM bercampur etanol.
"Dengan cara mendorong pemerintah untuk memperketat pengawasan kualitas BBM di setiap rantai distribusi, beri sanksi bagi pihak yang melakukan penyimpangan," kata Muhammad Yunus, ketua Pojok Pas.
Ketiga mereka menuntut ketersediaan BBM yang berkualitas. Dengan melakukan audit kualitas secara independen. DPRD kota Pasuruan bisa membentuk tim untuk mengaudit kualitas pertalite yang beredar di lapangan.
Keempat, meminta ganti rugi kepada pihak yang bertanggung jawab atas biaya kerusakan. Sebab kondisi ini merugikan ojol dan masyarakat.
Terakhir, membentuk posko pengaduan dengan harapan jika kasus ini terulang kembali, ada tempat dan tindak lanjut untuk penggantian biaya kerugian pada konsumen.
Perwakilan ojol sempat beraudiensi dengan DPRD Kota Pasuruan. Dalam audiensi itu, Yunus mengungkapkan banyak ojol yang dirugikan karena kualitas BBM yang buruk.
Mereka baru saja mengisi BBM di SPBU, tapi harus masuk bengkel karena motor mrebet. Tangki motor juga harus dikuras.
"Biayanya tidak murah. Bisa Rp 70 ribu atau lebih. Padahal sudah diservis sebelumnya. Kami rugi dua kali karena harus isi BBM lagi jenis pertamax," tutur Yunus.
Ia menceritakan pada Minggu (2/10), ada audiensi dengan Pertamina Area Malang. Dalam koordinasi itu, perwakilan Pertamina menyampaikan masyarakat yang mengalami motor mrebet bisa mendatangi SPBU tempat membeli BBM.
Mereka tinggal menunjukkan struk pembelian atau bukti video closed circuit television (CCTV) jika membeli di tempat itu.
Pertamina akan memberikan ganti rugi. Untuk roda dua sebesar Rp 150 ribu, sedangkan roda empat Rp 500 ribu.
Namun ternyata di lapangan, klaim ini tidak semudah yang disampaikan oleh pertamina. Ada anggota Pojok Pas yang menyampaikan keluhan pada salah satu SPBU.
Dan petugas di sana hanya memberikan ganti rugi Rp 50 ribu dengan alasan mereka harus verifikasi dahulu dan menyampaikan ke pertamina.
Motor yang mrebet bisa dibawa ke bengkel yang dianjurkan oleh Pertamina. Di Kota Pasuruan ada dua lokasi yakni di Jalan Panglima Sudirman dan di Jalan Veteran.
"Di lapangan malah berbeda dengan yang disampaikan Pertamina. Uang Rp 50 ribu itu tidak cukup mengganti rugi biaya kerusakan,," jelasnya.
Karena itu, pihaknya berharap agar anggota legislatif itu bisa membantu masyarakat mencari solusi.
Pihaknya tidak ingin kejadian ini berlarut-larut. Sebab yang dirugikan adalah masyarakat. Semestinya dapat uang, tapi harus mengeluarkan uang karena kerusakan kendaraan.
"Jangan ada lagi korban korban lainnya. Kami ini ingin mencari nafkah. Tapi malah rugi harus mengeluarkan uang karena motor mrebet," pungkasnya.
Ketua DPRD kota Pasuruan, Muhammad Toyib menyebut tuntutan dari aliansi ojol ini diterima dan akan menjadi masukan bagi pihaknya.
Tentu dewan akan menindaklanjuti keluhan masyarakat. Dslam waktu dekat, dewan akan memanggil pertamina untuk mengetahui kondisi di lapangan dan mencari solusinya.
Pihaknya juga akan melakukan tindak lanjut di lapangan dengan menggandeng dinas perindustrian dan perdagangan (Disperindag). Ini untuk memastikan kualitas BBM di SPBU di kota Pasuruan memang sudah sesuai dan tidak merugikan masyarakat.
Kasus motor mrebet ini memang cukup banyak terjadi akhir akhir ini. Diakui Toyib, keluarganya juga menjadi salah satu korban.
Motor Honda Beat tahun 2022 yang baru diisi BBM jenis pertalite tiba tiba tarikannya berat. Akhirnya tangki motor itu harus dikuras.
"Padahal motornya termasuk baru. Berumur tiga tahun. Diperbaiki di bengkel dekat rumah,” sebut politisi Golkar tersebut. (riz/fun)
Editor : Fandi Armanto