SEIRING berkembangnya teknologi, permainan tradisional yang menjadi tradisi masyarakat Indonesia mulai tergerus.
Kini, anak-anak lebih mengenal permainan online di gadget daripada bermain bersama kawan di halaman rumah, seperti zaman orang tuanya.
Pondok Pesantren Bayt Al Hikmah, Kota Pasuruan, melihat fenomena tersebut sebagai sebuah keprihatinan. Karenanya, para santri dengan kesadaran dan kepedulian berpikir untuk menggelar “Dolanan Yok!.”
Sebuah gelaran perlombaan permainan tradisional yang diikuti anak-anak dari jenjang sekolah dasar hingga sekolah menengah atas.
Banyak permainan tradisional yang dilombakan. Mulai gobak sodor, egrang, hingga congklak. Uniknya, setiap tahun mereka mengangkat satu daerah di Indonesia sebagai tema. Tahun ini mereka mengangkat kebudayaan Lombok untuk menjadi tema Dolanan Yok!.
“Kami ingin menghidupkan kembali tradisi Indonesia lewat permainan tradisional. Tahun ini kami mengangkat daerah Lombok, jadi nanti nama-nama permainannya sesuai yang ada di Lombok,” ujar Direktur Usaha dan Pembangunan Pondok Pesantren Bayt Al Hikmah Ning Hj. Wardah Nafisah, S.Kep., MBA.
Menurutnya, kegiatan ini merupakan bagian dari pembentukan karakter terhadap anak. Dari permainan tradisional, karakter pemberani, sportif, dan mampu bekerja sama dengan tim dapat terbentuk.
“Masalah di masyarakat yang kita hadapi saat ini adalah adiksi gadget. Harapannya, dari permainan ini dapat menghilangkan adiksi gadget pada anak,” ujar Ning Wardah.
Ketua Yayasan Bayt Al Hikmah Dr. H Ahmad Taufiq AR, M.Si. mengatakan, Dolanan Yok! ini merupakan event tahunan yang istiqamah digelar Pondok Pesantren Bayt Al Hikmah. Kegiatan ini di-handle langsung oleh para santri.
Melalui kegiatan ini, diharapkan dapat meningkakan skill para santri dan bisa bermanfaat untuk kehidupan mereka kelak.
“Yang mengonsep agenda itu semua para santri. Kami berharap dapat meningkatkan kreativitas mereka dan menjadikan mereka unggul di bidangnya kelak,” terangnya.
Event yang sudah digelar setiap tahun selama 10 tahun terakhir ini, mengalami banyak peningkatan. Awalnya yang mengikuti lomba hanya 300 orang.
Kini, total pesertanya mencapai 3.020 orang. Mereka berasal dari banyak sekolah dari sejumlah daerah. Tak hanya dari Kota dan Kabupaten Pasuruan.
“Saya melihat banyak perkembangan. Awalnya hanya 300 peserta, sekarang sudah ribuan. Alhamdulillah, artinya santri juga banyak berkembang,” ujarnya. (ran/*)
Editor : Ronald Fernando