PASURUAN, Radar Bromo - Pendidikan tinggi rupanya masih menjadi hal mewah. Di Kota Pasuruan, mereka yang bisa mengenyam pendidikan tinggi masih minim. Hanya 16,55 persen lulusan perguruan tinggi.
Berdasarkan dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2024, diketahui, yang mengenyam pendidikan tinggi hanya 16,55 persen.
Sementara, pendidikan yang paling tinggi dienyam, adalah lulusan SMA dan SMK. Sebanyak 32,55 persen, merupakan lulusan SMA dan SMK.
Kepala BPS Kota Pasuruan, Imam Sudarmadji menuturkan yang mengeyam pendidikan tinggi, baik itu lulusan diploma maupun sarjana di Kota Pasuruan, memang masih minim. Baru sebanyak 16,55 persen.
Dengan rincian laki-laki sebesar 14,68 persen dan perempuan 18,35 persen.
"Penduduk yang berumur 15 tahun ke atas, didominasi lulusan SMA/SMK sederajat. Laki-laki yang lulus sebanyak 37,16 persen dan perempuan 29,68 persen," jelas Imam.
Kondisi ini menunjukkan jika akses pendidikan tinggi masih menjadi barang mewah.
Belum semua masyarakat bisa mendapatkan kesempatan yang sama. Karena itu, masyarakat cenderung tidak melanjutkan pendidikan usai lulus SMA atau SMK.
Penyebabnya beragam. Mulai dari adanya disparitas atau ketimpangan ekonomi antara kelompok pendapatan tinggi dan rendah. Lalu, minimnya fasilitas pendidikan tinggi yang memadai.
Hingga, biaya pendidikan yang terus meningkat, bahkan melebihi inflasi umum, sehingga menghambat kemampuan masyarakat ekonomi rendah.
"Bisa jadi karena akses untuk mendapat pendidikan tinggi itu minim. Karena biaya yang tidak terjangkau," kata Imam.
Anggota Komisi I DPRD Kota Pasuruan, Ismu Hardiyanto menyebut, pemkot harus memberikan langkah konkret untuk mendorong masyarakat bisa mengenyam pendidikan tinggi.
Misalnya, melakukan sosialisasi tentang beasiswa yang bisa diperoleh bagi yang pandai, namun dari kalangan ekonomi rendah.
Apalagi, macam beasiswa juga beragam. Tidak hanya dari lembaga pendidikan namun juga ada dari perusahaan.
Selain itu, pihaknya juga mendorong agar pemkot memberi atensi dengan menyediakan beasiswa bagi mereka yang berprestasi.
"Bukan hanya yang di bidang akademik, namun juga non akademik. Berprestasi di olahraga, kesenian atau lainnya," jelas politisi PKS ini. (riz/one)
Editor : Jawanto Arifin