PASURUAN, Radar Bromo-Korban kapal motor penyeberangan (KMP) Tunu Pratama yang tenggelam di selat Bali awal Juli lalu, masih menyisakan duka bagi keluarga penumpang.
Setelah tiga bulan berlalu, korban KMP Tunu kembali ditemukan. Salah satunya korban asal Kota Pasuruan, Muhammad Syakur.
Jenazahnya baru ditemukan tiga bulan setelah insiden, dan Selasa (7/10) malam jenazah korban tiba di Kota Pasuruan.
Suasana duka menyelimuti kepulangan jenazah Muhammad Syakur. Keluarga tak menyangka korban bakal ditemukan.
Meski telah dinyatakan hilang sejak tiga bulan lalu, namun jasadnya masih dibilang utuh.
Jenazah tiba di rumah duka di Lingkungan Klanggringan RT 05 RW 02 Kelurahan Krapyakrejo, Kecamatan Gadingrejo, Kota Pasuruan sekitar pukul 20.35.
Dijemput secara estafet menggunakan unit ambulans Lazizmu Kota Pasuruan dan Banyuwangi dari RSU Negara, Jembrana, Bali.
Kedatangannya langsung disambut haru warga dan keluarga yang telah menunggunya sejak petang di rumahnya.
Beberapa kerabat diantaranya tampak tak kuasa menahan air mata saat korban kali pertama datang.
Kesedihan sangat tampak pada adik bungsu korban, Usman. Ia terus menempel dan merangkuli peti jenazah dalam ambulan sejak kali pertama datang.
Usman biasanya kerap menemani sang kakak saat melakukan pengiriman hasil mebeler ke Bali. Sejak peristiwa 2 Juli 2025 itu, ia dan kerabat lainnya benar-benar merasa kehilangan.
Tak berselang lama, doa dan tahlilpun digelar. Jenazah kemudian dibawa ambulan menuju ke Masjid Baitul Muttaqin Krapyakrejo untuk disalatkan.
Malam itu juga, almarhum Syakur dimakamkan di pemakaman lingkungan setempat. Lokasinya tak jauh dari rumahnya. Ia dimakamkan tepat bersebelahan dengan makam sang nenek.
Sakhiya, 27, adik korban, tak pernah menyangka kalau kakak kandungnya tersebut ditemukan.
Pihak keluarga pertama kali mendapatkan informasi itu setelah dihubungi pihak kepolisian pada Senin (6/10) siang.
Mendapati kabar tersebut, Sukhiya didampingi dua kerabat lainnya, yakni Agus, 32, dan M. Khasan, 44, akhirnya segera berangkat menuju Bali.
“Kami berangkat naik kereta api (Senin, red) sore. Setelah itu kami didampingi pihak KMP Tunu menuju ke Jembrana, Bali. Dan Alhamdulillah segalanya dimudahkan,” ungkap Sakhiya.
Informasi yang dihimpun radarromo.jawapos.com di lapangan, jenazah korban ditemukan deket pantai dekat pelabuhan Gilimanuk. Segera personel SAR mengevakuasi jenazah ke RSUD Negara.
Saat ditemukan, kondisi jenazah masih utuh. Baju jaket bahkan sarung masih melekat rapi di tubuh.
Bahkan tas berisi KTP, SIM, STNK serta uang pecahan kertas senilai 1,4 jutaan juga masih utuh. Termasuk kunci mobil.
Diduga korban usai melakukan ibadah. Sebab sarung masih terpakai. Ini sampaikan Agus meniru keterangan dari tim forensik Bali.
Korban disebut kerap melakukan amalan, rajin sedekah dan rutin ikuti jamiyah pengajian dan dzikir
Sebelum insiden KMP Tunu, korban berencana akan menggelar santunan anak yatim di musala di rumahnya pribadi di perum Graha II Tidu. (ube)
Editor : Fandi Armanto