BUGUL KIDUL, Radar Bromo- Insiden perahu terbalik di Perairan Sidoarjo hingga membuat dua nelayan meninggal, membuat duka masyarakat pesisir.
Namun perahu terbalik memang menjadi risiko para nelayan. Mereka juga sudah terbiasa mencari tiram di periaran Sidoarjo.
Seperti yang dialami enam nelayan asal Kota Pasuruan. Termasuk Idris, 44, Sunarsih 55, Saparih 38, Ulfa 38, Suya, 54, dan Khamima 41.
Semua nelayan asal Kelurahan Tapaan ini memang sudah terbiasa mencari tiram di perairan Sidiarjo.
“Biasanya seminggu 3 sampai 3 kali mas. Istri saya kadang ikut. Dan keluarga para korban semuanya biasanya ikut,” sampai Saparih, 38, salah satu korban selamat.
Perahu yang biasa digunakan adalah perahu Eki milik Sapi’i warga Dusun Kisik, Desa Kalirejo, Kecamatan Kraton. Setiap mencari tiram selalu menggunakan perahu itu.
“Pemilk perahu itu besan saya. Biasanya pakai perahu itu kalau mencari tiram,” ujarnya.
Untuk memenuhi kebutuhan kelurga, para nelayan ini memang kerap melaut. Ini sudah dilakukan secara turun temurun. Bahkan biasa beli barang dan menyekolahkan anak dari hasil pekerjaan ini.
“Kami sudah dikasih pelampung oleh dinas perikanan. Tapi gak kepakai,” ujar Sulasmi, 36, istri Saparih.
Hal yang sama disampaikan Idris, 41. Kata dia, mencari tiram di Sidoarjo merupakan pekerjaan tetap keluarganya. Bahkan dia bisa beli tanah dan lainnya, semuanya dari hasil mencari tiram. “Saya dari kecil sudah mencari tiram,” ujarnya.
Biasanya dari dulu dirinya bersama keluarganya, menggunakan perahu Eki. Dengan menyewa dan setelah selesai mencari tiram, mereka membayar uang sekitar 500 ribu untuk sekali antar-jemput. (zen/fun)
Editor : Fandi Armanto