PASURUAN, Radar Bromo-Haul ke-44 Kiai Abdul Hamid di Kota Pasuruan, Selasa (2/9) dipadati Jemaah. Meski yang datang cukup banyak, namun mereka mengikuti rangkaian acara dengan tertib.
Selama haul, jemaah diajak tidak sekadar mengikuti kegiatan tahunan ini. Jemaah juga diajak menjaga Jawa Timur dan Indonesia.
Seperti biasa, kegiatan ini berpusat di Ponpes Salafiyah, Kelurahan Kebonsari, Panggungrejo, Kota Pasuuran.
Jemaah memadati seputar alun-alun dan gang arah ke ponpes sejak pukul 06.00. Jemaah juga bisa menyaksikan melalui di videotron yang diputar dari masjid setempat.
Sejumlah tokoh penting hadir dalam acar itu. Ada Wagub Jatim Emil Elestianto Dardak, Wali Kota Pasuruan Adi Wibowo, Wakil Wali Kota Mohammad Nawawi, Dandim 0819 Pasuruan Letkol Inf Boga Bramiko, dan Kapolres Pasuruan AKBP Davis Busin. Ada pula Ketua PWNU Jatim KH Abdul Hakim Mahfudz dan Mantan Menag Said Agil Al Munawar.
Wagub Jatim Emil dalam sambutannya, mengajak masyarakat untuk menjaga Jatim dan Indonesia. Demonstrasi yang berjalan anarkis beberapa hari terakhir, tidak boleh terjadi lagi.
Sebab, menurutnya, itu bukan wajah demokrasi yang sebenarnya. Ia pun memperbolehkan masyarakat menyampaikan aspirasi asal santun. Dan lewat keberkahan haul, ia berharap Indonesia membaik.
"Kami tidak antikritik. Asalkan disampaikan dengan santun dan baik. Bukan malah anarkis dengan merusak aset daerah," katanya.
Dalam tausiyahnya, Said Agil Al Munawwar mengajak masyarakat tidak hanya sekedar bertabaruk atau meminta berkah dari acara haul. Tapi lebih dari itu, haul ini harus menjadi simbol pengingat kematian. Bahwa seseorang pasti menemui Tuhannya.
Justru mukmin sebenarnya senang menghadapi kematian karena akan segera bertemu dengan Sang Pencipta. Yang harus dilakukan oleh umat Islam adalah mempersiapkan kematian sebaik mungkin.
"Muslim harus mengingat haul ini bukan sekadar perayaan rutin tahunan. Tapi sebagai pengingat jika kelak kita akan sama seperti KH Abdul Hamid," jelas Said Agil.
Kiai Abdul Hakim Mahfudz menambahkan, KH Abdul Hamid adalah sosok panutan. Dia bukan hanya ulama yang terkenal dengan kewaliannya, tapi ilmu agamanya juga luas. Sebagai muslim kita harus meneladani sosok Kiai Hamid.
"Lewat Haul ini, kita perlu mengingat dan meneladani sosok Kiai Hamid. Bisa jadi tahun depan kita sudah tidak bisa hadir," jelas Gus Kikin, sapaannya.
Ribuan jemaah yang memadati areal alun-alun dan Masjid Agung Al Anwar begitu khusyuk mengikuti haul yang berlangsung sampai pukul 12.00. Tidak hanya dari Kota Pasuruan, namun dari luar daerah. Ada dari Situbondo, Jember, hingga Aceh. Mereka datang berebut keberkahan haul.
"Saya datang bersama istri dan anak dari Jember. Datang mulai Senin malam karena ingin dapat keberkahan Romo Yai," kata Abdul Aziz, 50. (riz/hn)
Editor : Muhammad Fahmi