Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Indeks Pertanaman Padi di Kota Pasuruan Rendah, Dinas Pertanian Sebut Capai 3,00

Fahrizal Firmani • Senin, 18 Agustus 2025 | 13:00 WIB
PANEN: Sejumlah petani mengangkut hasil panen padi di area pertanian di Kelurahan Bugul Kidul, Kota Pasuruan, beberapa waktu lalu.
PANEN: Sejumlah petani mengangkut hasil panen padi di area pertanian di Kelurahan Bugul Kidul, Kota Pasuruan, beberapa waktu lalu.

PASURUAN, Radar Bromo- Luas panen dan produksi padi serta produksi beras di Kota Pasuruan sepanjang 2024 meningkat. Namun, Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Pasuruan mencatat indeks pertanaman (IP) padi masih rendah. Hanya 1,90.

IP merupakan ukuran berapa kali padi ditanam dan dipanen dalam satu tahun pada lahan yang sama. Dengan IP 1,90, artinya di Kota Pasuruan, petani hanya menanam dan memanen padi tidak sampai dua kali dalam setahun.

Angka ini termasuk rendah. Sebab, IP tinggi 3,00. Jika IP-nya mencapai 3,00, artinya rata-rata petani menanam dan memanen padi sampai tiga kali dalam setahun.

“Yang perlu diperhatikan, IP padi yang di bawah 2,00. Artinya, dalam setahun, masa tanam tidak sampai dua kali,” ujar Kepala BPS Kota Pasuruan Imam Sudarmadji.

Luas panen dan produksi padi di Kota Pasuruan sepanjang 2024 meningkat. BPS mencatat, produksi padi mencapai 8.863 ton gabah kering giling (GKG). Sementara, produksi beras untuk konsumsi sekitar 5.118 ton.

Dalam survei BPS, diketahui luas panen padi pada 2024 diperkirakan 1.579 hektare. Meningkat 204 hektare dibanding 2023 yang hanya 1.375 hektare. Produksi padi juga naik 843 ton GKG dari 8.020 ton GKG pada 2023.

Kenaikan ini juga terjadi pada produksi beras sepanjang 2024 untuk konsumsi pangan. Mencapai sekitar 5.118 ton, meningkat 487 ton dibandingkan produksi beras pada 2023 yang hanya 4.631 ton.

Imam mengatakan, dari hasil survei, puncak panen padi mengalami perbedaan. Pada 2023 terjadi pada Oktober, sementara 2024, puncak panen terjadi pada November. Pada 2024, produksi tertinggi terjadi pada November, sedangkan 2023 terjadi pada Oktober.

“Produksi padi terendah terjadi pada Mei. Produksi padi pada November sebesar 1406 ton, sementara produksi pada Mei diperkirakan 235 ton,” jelasnya.

Imam menjelaskan, produksi beras tertinggi pada 2024 terjadi pada Oktober. Mencapai 720 ton. Sementara, produksi beras terendah diperkirakan terjadi pada Mei, sebesar 136 ton. Kondisi ini berbeda dari 2023. Kala itu, produksi beras tertinggi terjadi pada Oktober dan produksi beras terendah pada Februari.

Kabid Tanaman Pangan dan Hortikultura (TPH) Dinas Pertanian Kota Pasuruan Zahra Hayati mempertanyakan IP yang diperoleh BPS. Sebab, sesuai data Dinas Pertanian, katanya, IP padi di Kota Pasuruan mencapai 3,06. Artinya, rata-rata masa tanam dan masa panen mencapai tiga kali dalam setahun.

“Tidak betul jika IP padi hanya 1,90. Sebab, IP Kota (Pasuruan) itu mencapai 3,06. Dalam setahun itu masa tanam dan masa panen padi mencapai tiga kali,” ujarnya.  (riz/rud)

Editor : Ronald Fernando
#pasuruan #padi #pertanian