Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Tangkapan Ikan di Perairan Kabupaten Pasuruan Melonjak, Tapi Harganya Bikin Nelayan Senyum Kecut

Muhamad Busthomi • Sabtu, 2 Agustus 2025 | 19:25 WIB
ANGKUT: Nelayan asal Lekok, Kabupaten Pasuruan saat mengangkat ikan hasil tangkapan. Selama semester pertama tahun ini, tangkapan ikan melonjak. Sayang, harga jual ikan merosot.
ANGKUT: Nelayan asal Lekok, Kabupaten Pasuruan saat mengangkat ikan hasil tangkapan. Selama semester pertama tahun ini, tangkapan ikan melonjak. Sayang, harga jual ikan merosot.

BANGIL, Radar Bromo - Produksi ikan tangkap di Kabupaten Pasuruan sepanjang Semester I 2025 mencatatkan tren positif.

Total hasil tangkapan dari nelayan di sepanjang pantai utara Pasuruan, tembus 11.930,8 ton.

Jumlah ini meningkat signifikan dibandingkan periode sebelumnya. Namun sayang, kenaikan produksi tak diikuti dengan membaiknya harga jual ikan di pasaran.

Data Dinas Perikanan Kabupaten Pasuruan menunjukkan, pada triwulan pertama tahun ini, produksi ikan tangkap mencapai 4.826,3 ton.

Angka tersebut melonjak drastis pada triwulan kedua, yakni sebesar 7.104,5 ton.

Jika dijumlahkan, total produksi selama enam bulan pertama 2025 mencapai 11.930,8 ton. Namun secara nilai ekonomi, justru turun.

Pada triwulan I, rata-rata harga per ton mencapai Rp 12.865.000. Sedangkan pada triwulan II, harga merosot menjadi Rp 10.700.000 per ton.

Bila dikalkulasi, nilai ekonomi hasil produksi ikan tangkap semester I, mencapai Rp 133,47 miliar.

Dengan rincian, Rp 62,07 miliar pada triwulan I dan Rp 71,01 miliar pada triwulan II.

Plt Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Pasuruan Soegeng Soebijanto mengakui fenomena tersebut.

Ia menyebut lonjakan produksi disebabkan cuaca laut yang lebih bersahabat selama April hingga Juni.

Namun di sisi lain, suplai ikan yang melimpah tak sebanding dengan daya serap pasar. Akibatnya, harga jual di tingkat pelelangan ikan, ikut turun.

“Memang dari sisi produksi kita naik signifikan. Karena kondisi laut yang mendukung. Tapi hukum pasar berlaku, ketika pasokan banyak, harga justru menurun,” terang Soegeng.

Ia menyebut, anjloknya harga jual ini berdampak pada pendapatan nelayan. Meski hasil tangkapan meningkat, nilai rupiahnya belum tentu lebih besar dibandingkan sebelumnya.

“Ini menjadi tantangan bagi kami, bagaimana menjaga keseimbangan antara produksi dan stabilitas harga,” imbuhnya.

Untuk mengantisipasi gejolak harga, Dinas Perikanan berupaya mendorong diversifikasi produk hasil tangkap.

Salah satunya melalui pelatihan pengolahan ikan dan pemberdayaan kelompok nelayan agar tak hanya menjual dalam bentuk segar, tapi juga olahan.

“Ketika harga turun, mereka bisa menyiasati dengan mengolah menjadi produk yang punya nilai tambah,” ujar Soegeng.

Ke depan, pihaknya juga akan memperkuat kerja sama dengan sektor industri pengolahan hasil laut dan memperluas pasar penjualan, baik dalam maupun luar daerah.

Dengan begitu, fluktuasi harga bisa lebih terkendali dan kesejahteraan nelayan tetap terjaga.

“Target kami bukan hanya mengejar produksi, tapi juga memastikan nilai ekonominya tetap stabil. Karena muara akhirnya, adalah kesejahteraan nelayan,” tandasnya. (tom/one)

Editor : Jawanto Arifin
#nelayan #Tangkapan #ikan #kabupaten pasuruan