PASURUAN, Radar Bromo - Media massa memiliki tantangan yang berat, seiring berkembangnya peradaban saat ini.
Terlebih dengan merebaknya platform digital, berupa media sosial. Menjadi dinamika tersendiri, dengan kemajuan teknologi.
Salah satu tantangan yang dihadapi, adalah penyebaran berita hoax yang tak bisa dipertanggungjawabkan.
Dasarnya, tak lain kecepatan dari media itu sendiri, dalam penyampaian informasi.
Bupati Pasuruan, HM Rusdi Sutejo memandang, media massa harus bisa menjadi benteng dalam penyebaran berita hoax.
Karena berita hoax, memiliki dampak yang sangat besar, bisa memicu perselisihan bahkan kehancuran.
Pemerintah tidak bisa lepas dari media massa. Sinergitas dibutuhkan, untuk mendukung pembangunan yang lebih baik.
“Peran media sangat sentral bagi pemerintah daerah, khususnya Kabupaten Pasuruan dalam mendorong pembangunan,” kata Mas Rusdi-sapaannya.
Salah satu media massa yang memiliki peranan tersebut, adalah Jawa Pos Radar Bromo.
Menurut Mas Rusdi, Jawa Pos Radar Bromo merupakan media mainstream di wilayah Bromo, yakni Pasuruan-Probolinggo.
Di usianya yang ke-26 tahun, Mas Rusdi berharap agar Jawa Pos Radar Bromo bisa terus eksis. Serta bertransformasi mengikuti perkembangan zaman yang ada.
“Untuk grafik media di Radar bromo sangat bagus. Kita tahu tim dari Radar Bromo sudah berpengalaman di dunia media. Tinggal bagaimana tranformasi, tidak hanya dicetak dan online. Tapi juga di media sosial. Biar Radar Bromo tetap menjadi media yang disegani, serta menjadi rujukan dan tolak ukur dalam pemberitaan di Kabupaten Pasuruan,” sampainya.
Mas Rusdi mengucapkan terima kasih terhadap media, terutama Jawa Pos Radar Bromo atas support dalam menginformasikan kepada masyarakat.
Terutama yang berkaitan dengan pembangunan di wilayah Kabupaten Pasuruan.
“Kolaborasi dengan media, sangat kami butuhkan. Agar masyarakat, bisa mendapatkan informasi yang dibutuhkan. Kami juga tidak anti kritik. Karena kritikan, masukan dan perspektif dari media, sangat kami butuhkan,” imbuh dia.
Sementara itu, Wakil Bupati Pasuruan, HM Shobih Asrori berpandangan, orang tidak akan memiliki nama, bila tidak didukung media.
“Kami sangat berterima kasih dengan adanya media. Karena peranan media, sangat besar dalam banyak hal. Kami mungkin tidak akan dikenal, tanpa media,” ungkap Gus Shobih-sapaannya.
Salah satu media yang dimaksud, adalah Jawa Pos Radar Bromo. Ia mengaku, tahu bagaimana sejarah Radar Bromo berproses, hingga menjadi seperti sekarang.
Bagi Gus Shobih, bertahan hingga usia ke-26 tahun, bukanlah perkara yang mudah.
Terlebih dengan ketatnya persaingan media massa, serta merebaknya penggunaan media sosial.
Butuh perjuangan keras agar tetap eksis hingga saat ini. “Kami menilai, Radar Bromo sudah berjalan pada relnya. Tidak mencla-mencle. Makanya, tetap eksis hingga sekarang,” tandasnya.
Dengan perkembangan zaman, berita memang tidak hanya didapat dari media cetak. Tetapi juga media media online dan media sosial.
Meski begitu, ia berharap agar Jawa Pos Radar Bromo tetap mempertahankan pemberitaan melalui media cetaknya.
Walau tidak dipungkiri, pembaca media cetak, tidak sebanyak sebelum-sebelumnya.
Namun, ia yakin, pembaca media cetak, adalah orang menengah ke atas. Artinya, memiliki intelektual.
“Media cetak, punya segmen pembaca tersendiri. Jadi, harus dipertahankan. Jangan sampai dihilangkan,” saran dia.
Akhirnya, Mas Rusdi dan Gus Shobih mengucapkan selamat HUT untuk Jawa Pos Radar Bromo yang ke-26.
Mereka berharap, agar Jawa Pos Radar Bromo tetap eksis mengikuti perkembangan zaman. (one/*)
Editor : Jawanto Arifin