NGULING, Radar Bromo-Ledakan hebat di RT 2/RW 5, Dusun Parasan 2, Desa Sanganom, Kecamatan Nguling, Kabupaten Pasuruan membuat sang empunya rumah mengalami luka parah.
Dari pantauan Jawa Pos Radar Bromo, sebagian tubuh Saiful Rizal diperban. Sempat dirawat di IGD RSUD Grati, Saiful Rizal akhirnya dirujuk ke RSUD Dr Soetomo, Surabaya.
Kasatreskrim Polres Pasuruan Kota Iptu Choirul Mustofa menegaskan, ledakan yang terjadi di rumah Saiful Rizal, 35, kemungkinan besar disebabkan oleh bondet. Bondet itu diduga dirakit sendiri oleh korban.
“Berdasarkan barang bukti sementara yang ditemukan di TKP, kemungkinan besar ledakan disebabkan oleh bondet yang dirakit korban. Namun, kepastiannya masih menunggu korban. Karena korban saat ini belum bisa dimintai keterangan,” terangnya.
Jenis ledakan itu, menurutnya, termasuk dalam kategori low explosive.
Salah satu cirinya, yaitu di sekitar TKP petugas menemukan banyak petasan kecil-kecil yang diduga berasal dari bondet yang meledak.
Pihaknya pun sudah memeriksa sekitar 10 saksi untuk mengembangkan kasus ini. Mulai keluarga, tetangga, orang tua, dan istri korban.
Andi, 35, tetangga korban mengungkap, warga sekitar berasumsi bahwa ledakan di rumah korban berasal dari bondet yang dibuat sendiri oleh korban di ruang servisnya.
Entah apa tujuan korban membuat bondet itu. Namun, sejumlah dugaan terdengar dari warga sekitar.
Di antaranya, korban membuat bondet karena latar belakang dendam pada seseorang.
Bukan sekadar dugaan. Dugaan itu muncul karena kondisi keluarga korban belakang ini.
Menurut Andi, korban dan istrinya sering bertengkar. Isu yang tersebar, pertengkaran itu dipicu oleh adanya pihak ketiga dalam rumah tangga mereka.
“Semua tetangga sini sudah dengar bahwa ada orang ketiga. Ada dugaan istrinya selingkuh. Kata warga, bondet ini dibuat karena dendam itu. Tapi keburu meledak sebelum dipakai,” lanjutnya.
Korban sendiri, menurut Andi, jarang bersosialiasi dengan tetangga sekitar.
Bahkan, korban tidak pernah aktif di kegiatan desa. Seperti tahlilan, ke masjid untuk salat berjemaah, dan lainnya.
Korban juga sangat tertutup. Setiap harinya korban hanya fokus pada pekerjaannya sebagai tukang servis barang elektronik.
Saat membeli barang kebutuhan untuk servisnya, korban hanya menggunakan jasa kurir.
“Tidak pernah keluar rumah. Artinya tidak pernah main ke tetangga sini. Tapi setiap malam, tamu konter ramai, antara pukul 22.00 ke atas sampai pagi,” katanya.
Menurutnya, korban pernah menikah dengan perempuan dari Desa Sanganom. Setelah memiliki satu anak, mereka bercerai.
Kemudian, korban menikah lagi dengan perempuan asal Lumbang, Kabupaten Probolinggo. Dari pernikahannya itu, pasutri tersebut dikarunia dua anak.
Namun belakangan ini, menurut Andi, keduanya sering bertengkar. Hingga akhirnya, dua hari yang lalu mereka bertengkar hebat. Kemudian, istri korban pulang ke rumahnya.
“Saya tahu, karena saya kerja bengkel di rumah. Kalau bertengkar ya kedengaran. Tapi bagi saya pertengkaran suami istri biasa,” ujarnya. (zen/hn)
Editor : Muhammad Fahmi