WARGA Dusun Sempu, Desa Cowek, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Pasuruan, masih terus dihantui rasa waswas. Ribuan penduduk yang tinggal di dusun ini belum bisa tenang setelah dilanda bencana tanah gerak pada Selasa-Rabu (28-29/1) lalu. Terlebih rumah-rumah rusak belum diperbaiki. Relokasi juga belum jelas direalisasikan.
Bencana alam tanah gerak di Dusun Sempu, Desa Cowek, telah empat bulan berlalu. Bencana ini masih membuat warga terdampak waswas. Terlebih, kini mereka direkomendasikan untuk pindah tempat.
Insiden ini membuat 58 rumah terdampak. Di antaranya, 6 rumah rusak berat, 20 rumah rusak sedang, 7 rumah rusak ringan, dan 25 rumah terdampak. Terbanyak berada di RT 01/RW 08 dan sebagian di RT 03/RW 08. Mulai dari lantai dan tembok, serta fondasi rumah retak. Bahkan, ada yang dindinnya sampai jebol.
Sebagian rumah rusak sudah ada yang diperbaiki sendiri oleh warga. Namun, ada juga yang masih menunggu uluran tangan pemerintah. Termasuk rencana relokasi yang ditawarkan pemangku kebijakan.
Kepala Desa Cowek Muhammad Sofii mengatakan, dalam setiap kesempatan, pihaknya sering ditanya warga terdampak bencana alam tanah gerak. Ia mengaku tidak bisa berbuat banyak. Hanya bisa mengimbau dan mengingatkan warga untuk tetap waspada.
“Kalau ditanya warga Dusun Sempu, saya jawabnya sabar dan masih menunggu keputusan dari pemerintah. Juga harus tetap selalu waspada. Itu saja yang bisa saya katakan,” ujarnya.
Berkaitan dengan rencana relokasi, sudah disiapkan lahan tanah kas desa di Dusun Sumbersari. Jaraknya sekitar 5 kilometer dari Dusun Sempu. Semua rumah warga yang terdampak rencananya akan dipindah ke sana. Namun, ternyata sebagian besar warga keberatan.
“Alasannya, lokasinya jauh. Mereka tempat kerjanya di Dusun Sempu. Banyak yang bekerja menjadi petani dan buruh tani. Juga merawat hewan ternak, seperti sapi dan kambing,” katanya.
Selain itu, kalau memang harus dilakukan relokasi, kata Sofii, warga berharap lokasinya tetap di Dusun Sempu. “Banyak yang memilih kerusakan rumahnya segera diperbaiki dari pada direlokasi ke lokasi berjarak cukup jauh,” bebernya.
Salah seorang korban warga Dusun Sempu, Rudiyanto, 34, mengatakan, sambil menunggu keputusan relokasi atau tidak, pihaknya berharap rumah warga yang terdampak segera diperbaiki. Terlebih keputusan adanya relokasi atau tidak belum jelas.
“Keputusan itu (relokasi) masih lama. Belum tentu warga terdampak bisa menerimanya. Mending rumah-rumah yang rusak segera diperbaiki, kan sudah di-survey oleh tim teknis,” ujar warga yang rumahnya rusak parah ini.
Jika kerusakannya tidak segera diperbaiki, Rudi mengatakan, rawan makin parah. Apalagi kini sudah ditempati. Memang ada sejumah warga yang sudah memperbaiki sendiri rumahnya. Tetapi, kata Rudi, yang diperbaiki hanya kerusakan ringan.
“Yang rusak berat dan sedang, semuanya menunggu jawaban dan keputusan pemerintah. Jadi, tetap dibiarkan dengan kondisi yang ada dulu. Kalau diperbaiki sendiri, uangnya dari mana,” katanya.
Sejatinya, Pemkab Pasuruan sudah melakukan sejumlah upaya berkaitan dengan bencana ini. Salah satunya menyusun Rencana Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (R3P). Dengan fokus terhadap pemulihan insfrastruktur, ekonomi, dan sosial pascabencana.
“R3P ini harus dibuat dan disusun, karena dokumen perencanaan ini menjadi landasan pengajuan dana kepada Pemerintah Pusat maupun Provinsi untuk pembangunan rumah relokasi,” ujar Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pasuruan, Sugeng Hariadi.
Karena rumah yang terdampak mencapai 58 rumah, dipastikan butuh anggaran besar. Sebelum menyusun R3P, Pemkab juga menyiapkan lahan berstatus tanah kas desa untuk merelokasi warga terdampak. Lokasinya di Dusun Sumbersari, Desa Cowek. “Lahan untuk relokasi sudah ada, bahkan sudah disurvei oleh dinas teknis. Karena rekomendasinya perlu dilakukan relokasi,” tuturnya.
Upaya lainnya adalah mengencarkan sosialisasi langkah mitigasi. Sesuai rekomendasi Badan Geologi. Upaya yang perlu dilakukan, di antaranya menutup retakan tanah dengan tanah liat dan menanam pohon tegakkan dengan melibatkan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Pasuruan.
“Untuk menutup retakan tanah dengan tanah liat masih direncanakan, tanah liat seperti apa, ini masih dikaji. Kalau untuk pohon tegakkan, DLH sudah menanamnya,” jelasnya.
Di samping itu, Sugeng mengaku juga mengimbau warga mengaktifkan kembali sistem keamanan lingkungan (siskamling). Sebagai Early Warning System (EWS), berbasis komunitas untuk mendapatkan informasi dini terkait potensi kebencanaan.
“Prosesnya masih lama atau tidak, kami tidak bisa memastikan. Termasuk keputusan akan adanya relokasi atau cukup dengan rehab rumah warga mengalami kerusakan. Ini juga belum diputuskan,” ungkapnya.
Penanganan bencana alam terdampak puting beliung dan banjir, dengan tanah gerak, kata Sugeng, tidak sama. Karena untuk tanah gerak menyangkut jangka panjang. Apalagi kejadiannya sudah berulang di lokasi yang sama.
“Kalau untuk tanah gerak, Pemkab tidak sendirian. Tetap melibatkan sekaligus konsultasi ke Pemprov dan Pusat. Karena menyangkut banyak hal dan aspek, terutama pendanaan,” ujarnya.
Memilih Bertahan di Rumah Rusak
Pascabencana alam tanah gerak di Dusun Sempu, sejumlah warga terdampak sempat mengungsi. Mereka tinggal di tiga ruang kelas SDN Cowek II. Tercatat ada 176 jiwa. Di antaranya, ada 32 anak-anak dan balita, 12 warga lanjut usia (lansia), dan seorang ibu hamil.
Dari ratusan warga yang tinggal di 58 rumah terdampak, tidak semuanya mengungsi ke SDN Cowek II. Ada juga memilih tinggal di rumah saudaranya di Dusun Sempu. Kebetulan rumah kerabatnya tidak terdampak bencana.
Selama sekitar sebulan ratusan warga tiu tinggal di penggungsian. Kebutuhan makan para penggungsi berupa nasi bungkus, disuplai warga dari dusun lain di Desa Cowek, yang dikoordinir oleh pemerintah desa setempat.
“Selama sekitar sebulan di penggungsian, suplai makanannya berupa nasi bungkus dibantu warga dari dusun lain. Selanjutnya, dari BPBD Kabupaten Pasuruan,” ujar Kepala Desa Cowek, Muhammad Sofii.
Warga menggungsi ke SDN Cowek II, berlangsung sekitar sebulan. Awal Maret, bersamaan dengan Ramadan 1446 Hijriah, warga memutuskan pulang dan tinggal di rumah masing-masing. Meski rumahnya dalam kondisi rusak.
“Terlalu lama di penggungsian tidak baik. Beberapa hari saja sudah jenuh. Apalagi hingga lebih dari sebulan. Akhirnya, mulai awal puasa (Ramadan) pulang ke rumah masing-masing. Mau bagaimana lagi, kondisinya seperti ini,” ujar salah satu korban bencana, Rudiynato.
Syukur, setelah 29 Januari 2025, tidak terjadi bencana susulan. Namun, kata Rudi, warga terdampak yang kini tinggal di rumah masing-masing tetap waswas. Apalagi ketika hujan. Tetapi, mereka tetap bertahan di rumahnya yang rusak dibanding tinggal di pengungsian.
“Kami masih trauma. Tapi, sedikit demi sedikit berkurang. Tidak seperti beberapa hari pascakejadian Januari lalu. Tentunya rasa waswas tetap ada, terutama saat hujan lebat. Mudah-mudahan ke depan terus aman,” ujarnya diamini istri dan dua anaknya.
Masih Rawan Terjadi Lagi
Bencana tanah gerak di Dusun Sempu, Desa Cowek, Selasa-Rabu (28-29/1) lalu, bukan kali pertama. Sembilan tahun lalu atau pada 2016, pernah terjadi bencana serupa.
“Kejadian tanah gerak di dusun kami (Sempu) Januari lalu terjadi dalam dua hari berturut-turut. Setelah itu sampai sekarang ini sudah tidak terjadi lagi,” ujar salah seorang korban, Rudiyanto, 34.
Bencana alam ini sudah dua kali terjadi. Namun, pada 2016 lalu, hanya dua rumah warga yang rusak, kerusakannya pun ringan. “Kejadiannya saat itu sama-sama di RT 03/RW 08. Lebih parah tahun ini,” ujar Anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Cowek, Dasuki, 49.
Pascakejadian, Pemprov bersama Pemkab, juga langsung turun. Mereka datang ke Dusun Sempu. Melihat langsung rumah-rumah warga ysang rusak. termasuk menemui warga di pengungsian.
Selain itu, juga tiga kali d-survey. Kemudian dilakukan kajian oleh BPBD Provinsi Jatim, Pakar Geo Teknik dari ITS Surabaya, dan tim dari Badan Geologi Nasional. Mereka merekomendasikan puluhan kepala keluarga warga terdampak perlu direlokasi.
“Hasil kajian dan survey lapangan, semua merekomendasikan relokasi warga terdampak. Karena kejadian serupa, rentan terjadi kembali pada tahun-tahun berikutnya,” ujar Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Pasuruan, Sugeng Hariadi.
Terlebih insiden bencana alam tanah gerak di Dusun Sempu, tidak hanya terjadi sekali. Melainkan sudah dua kali dalam kurun waktu 9 tahun terakhir.
Menurutnya, tanah gerak di Dusun Sempu, karena kualitas tanahnya rapuh. Serta, minimnya pohon tegakkan di dataran tinggi dengan ketinggian sekitar 650-700 meter dari permukaan air laut.
“Dulu rumah di Dusun Sempu, jarang. Sekarang sudah padat dan banyak rumah,” ujarnya. (zal/rud)
Editor : Ronald Fernando