Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Musala Baitul Djalil, Dipercaya Menjadi Tempat Ngaji Ulama Kharismatik Pasuruan

Fahrizal Firmani • Sabtu, 29 Maret 2025 | 22:25 WIB
CETAK ULAMA: Takmir musala setempat, Abdul Qohar (baju ungu) bersama Modin Kelurahan Kepel, M. Imron berdiri di depan pagar musala.
CETAK ULAMA: Takmir musala setempat, Abdul Qohar (baju ungu) bersama Modin Kelurahan Kepel, M. Imron berdiri di depan pagar musala.

SEKILAS tidak ada yang istimewa pada bangunan Musala Baitul Djalil, Kelurahan Kepel, Kecamatan Bugul Kidul, Kota Pasuruan.

Namun siapa sangka, musala ini pernah menjadi lokasi Pengasuh Ponpes Besuk, Kejayan, Kiai Ahmad Jufri belajar mengaji.

Takmir musala setempat, Abdul Qohar mengungkapkan, Baitul Djalil dibangun sekitar 1930 oleh ulama kharismatik Pasuruan, Kiai Abdul Jalil.

Awal dibangun berfungsi sebagai masjid. Tidak hanya digunakan untuk salat lima waktu. Namun juga, untuk salat Idul Fitri dan Idul Adha.

Kebetulan pada masa itu, jumlah masjid memang minim. Sehingga, masyarakat Kepel beribadah di tempat ini.

Karena sosok Kiai Abdul Jalil, banyak masyarakat yang menimba ilmu agama padanya. Tidak terkecuali ulama besar yang juga Pengasuh Ponpes Besuk Kiai Ahmad Jufri.

"Di sisi selatan musala ini, dahulunya ada bangunan pondok milik Kyai Abdul Jalil. Banyak orang yang menjadi santrinya," kata Qohar.

Takmir lainnya, Nur Ikhwan menjelaskan uniknya, Kiai Abdul Jalil ini suka mengajari ilmu ngaji di masjid miliknya.

Termasuk Kiai Ahmad Jufri saat belajar mengaji pun di musala ini. Adapula Mbah Wali Birran, ulama kharismatik lainnya.

Saat dibangun, musala ini menggunakan bangunan khas Belanda. Dengan atapnya dari kayu jati.

Kini sudah direnovasi menyesuaikan zaman. Karena banyak masjid yang lebih besar, akhirnya Baitul Djalil difungsikan sebagai musala.

Ada kisah unik sekitar 1930-an. Saat itu, Belanda mewajibkan agar hasil panen, sebagian disetorkan kepada mereka.

Namun masyarakat menolak. Mereka bersembunyi di musala ini. Belanda yang mencari mereka tidak bisa melihat.

Ternyata Kiai Abdul Jalil berdoa dan membuat hijab menggunakan lidi.

Kini, musala ini tetap digunakan untuk salat lima waktu. Namun saat menunaikan ibadah salat Jumat, masyarakat memilih salat di masjid yang lebih besar.

Kegiatan pendidikan Al Quran juga masih berjalan. Meski pondok Kiai Abdul Jalil sudah tidak ada lagi.

"Kalau hari raya meluber sampai di luar musala. Banyak masyarakat Kepel datang ke sini," tandas Ikhwan. (riz/one)

Editor : Jawanto Arifin
#musala #pasuruan #ulama kharismatik