BANYU BIRU merupakan sumber mata air yang menjadi wisata pemandian andalan di Kabupaten Pasuruan. Sudah lama destinasi wisata ini menjadi favorit warga Pasuruan karena murah dan terjangkau. Juga menjadi penunjang perekonomian warga sekitar. Wisata ini pernah digadang-gadang menjadi wisata syariah.
Wisata Banyu Biru yang rencananya diubah menjadi wisata syariah, membuat sejumlah pihak waswas. Konsep tersebut dikhawatirkan membuat pengunjung semakin sepi. Ditambah makin banyaknya fasilitas yang kumuh dan mangkrak. Minim perawatan. Karena itu, pengunjung hanya menikmati kolam alami Banyu Biru. Tidak ada yang lain.
Sejumlah pedagang mengungkapkan, belakangan ini jumlah pengunjung minim. Membuat dagangan mereka sepi pembeli.
“Kadang sehari tidak ada yang beli. Karena tidak ada pengunjung. Apalagi hujan,” ujar salah seorang pedagang di Wisata Banyu Biru, Sukma, 46.
Janda asal Desa Sumberejo, Kecamatan Winongan, ini mengaku sudah mendengar kabar jika konsep destinasi Wisata Banyu Biru akan diubah. Meski belum diterapkan, ia mengaku tidak setuju. Sebab, diyakini akan membuat pengunjung semakin minim.
Katanya, akan repot ketika pengunjung perempuan dan laki-laki dipisah. Terutama pengunjung keluarga yang membawa anak-anaknya. Pilihannya harus ke lolam laki-laki apa perempuan?
“Kok tega mengkonsep begini. Bagaimana mereka (anak-anak) kalau nangis, karena maunya bersama ibu atau bapaknya. Sementara, konsepnya kolam laki-laki dan perempuan dipisah. Ini kan wisata untuk umum,” katanya.
Konsep ini terdengar Islami. Menurutnya, tentu membuat saudara setanah air yang nonmuslim akan berpikir dua kali. Wisata ini nantinya akan dikira khusus muslim.
“Ini sudah terjadi selama ini,” katanya.
Menurutnya, selama ini banyak wisatawan nonmuslim yang berkunjung ke Banyu Biru. Termasuk dari Bali. Mereka menikmati wisata pemandian alami di wisata andalan Kabupaten Pasuruan ini.
Ketika muncul Pandemi Covid-19, Wisata Banyu Biru sempat ditutup. Waktu itu, Banyu Biru sepi pengunjung. Setelah dibuka kembali sempat ramai, namun tidak bertahan lama.
“Komunitas sepeda, pengunjung dari luar biasanya tiba-tiba teriak pesan minum atau makanan setelah renang. Sekarang sepi. Itu pun setiap ada satu atau dua pengunjung, kami harus menghampiri menawarkan dagangan,” katanya.
Pedagang yang dulu lokasinya tak jauh di kolam buatan, sejak kolamnya ditutup, mereka pindah ke lokasi ke kolam alami. Membuat lokasi wisata semakin kumuh. Karena itu, ia berharap destinasi wisata ini diperbaiki agar kembali ramai seperti sedia kala.
Pernyataan serupa disampaikan pedagang lainnya, Tiarsi, 65. Katanya, dulu sebelum muncul Covid-19, pengunjung sangat ramai. Pengunjung yang masuk dari pintu utama sampai mengantre. Bahkan, sering membuat lalu lintas macet.
“Sekarang tidak lagi. Ya begini nasibnya. Dulu penghasilan sebulan bisa sampai Rp 4 juta. Sekarang Rp 100 ribu sampai Rp 200 ribu saja, jarang. Saya harus bayar sekolah anak. Semoga Pak Rusdi (Bupati Pasuruan) ini bisa mengubah keadaan,” ujar warga Desa Cukurguling, Kecamatan Lumbang, ini.
Tiarsi mengaku, ini harus berjuang lebih keras. Karena berjualan di Banyu Biru menjadi satu-satunya sumber penghasilannya untuk bertahan hidup. Menurutnya, konsep wisata halal sah-sah saja. Namun, bila membuat wisatawan akan menjadi kian tidak berminat berkunjung, harus ditinjau ulang.
Ia berharap Pemkab bisa kembali menghidupkan kolam buatan. Fasilitas lainnya juga ditambah. Agar wisatawan lebih tertarik berkunjung. Misalnya, spot foto di dalam air kolam alami. Background ikan dan alas kolam sangat indah.
Fasilitas lainnya, misalkan pengadaan kereta gantung. Termasuk menyediakan fasilitas bermain khusus anak-anak. “Kolam lainnya ini harus diadakan lagi. Pohon besar jangan ditebang. Karena itu menambah keindahan view Banyu Biru secara alami,” katanya.
Kepala Desa Sumber Rejo, Kecamatan Winongan, Sakri mengatakan, dengan adanya Wisata Banyu Biru, banyak warga yang perekonomiannya terbantu. Baik para pedagang sampai mereka yang menyediakan jasa parkir. Namun, ketika Ramadan masih sepi.
“Setelah Ramadan nanti akan kembeli normal,” katanya.
Menurutnya, para pedagang dan juru parkir sempat tak bisa memperoleh penghasilan dari Wisata Banyu Biru. Yakni, ketika Pandemi Covid-19 melanda. Selama tiga tahun destinasi wisata ini ditutup total. Baru kembali dibuka pada 2022.
Katanya, pada awal-awal dibuka, pengunjung sempat ramai. Lantaran para pengunjung merasakan rindu berwisata. Setahun kemudian, pengunjung mulai berkurang.
Terkait konsep wisata syariah, kata Sakri, banyak yang kurang setuju. Karena diperkirakan akan dikhususkan wisatawan muslim. (zen/rud)
Editor : Ronald Fernando