WINONGAN, Radar Bromo –Keinginan siswa-siswi SDN Jeladri I Winongan, Kabupaten Pasuruan untuk kembali melakukan aktivitas belajar mengajar di sekolah akhirnya terwujud.
Hari pertama sekolah usai libur awal puasa itu menjadi momen yang membahagiakan bagi mereka.
Mulai Kamis (6/3), sebagian siswa-siswi sekolah itu kembali menempati ruang kelas.
Siswa kelas 4, 5, dan 6, kembali belajar di sekolah. Sedangkan siswa kelas 1, 2, dan 3, masih menempati rumah salah satu guru. Sebab, tiga ruang kelas sedang diperbaiki.
Tepat di hari pertama masuk sekolah itu, Bupati Pasuruan Rusdi Sutejo bahkan mengunjungi SDN Jeladri I yang ada di Desa Jeladri, Kecamatan Winongan, Kabupaten Pasuruan itu.
Rusdi datang sekitar pukul 10.00, untuk memastikan hari pertama sekolah di bulan Ramadan itu berjalan dengan baik.
Juga untuk memastikan, tidak ada lagi penyegelan sekolah oleh ahli waris seperti yang terjadi beberapa waktu lalu.
Mas Rusdi–sapaannya–meminta agar guru, wali murid, dan pihak sekolah melapor kalau ada penyegelan lagi.
Sebab, pendidikan adalah program prioritas pemerintah. Hak siswa agar bisa mengenyam pendidikan harus diutamakan.
"Bagi pihak yang merasa berhak pada tanah dan bangunan ini, silakan melakukan class action dengan menempuh jalur hukum melalui pengadilan. Bukan menyegel atau merusak," kata Mas Rusdi.
Meski demikian, menurut Rusdi, saat ini bangunan sekolah yang bisa digunakan baru tiga ruang kelas saja. Yaitu, ruang kelas 4, 5, dan 6.
Sementara ruang kelas 1, 2, dan 3, saat ini sedang dalam perbaikan. Rusdi memastikan, perbaikan dilakukan secepatnya dalam bulan ini.
Dan selama perbaikan itu dilakukan, siswa kelas 1, 2, dan 3, belajar di luar gedung sekolah. Mereka belajar di rumah seorang guru setempat yaitu Edy Siswanto.
"Kami lakukan perbaikan secepatnya. Kalau bisa rampung dalam bulan depan maka bisa segera digunakan oleh siswa," tutur Rusdi.
Salah seorang wali murid, Ama mengaku senang anak-anak mereka bisa kembali menempati bangunan sekolah.
Sebab, belajar di ruang kelas jelas lebih nyaman. Sirkulasi udara bagus karena ruangan luas dan siswa tidak berdesakan.
"Kalau di rumah milik Pak Guru Edi itu harus berdesakan. Tidak ada kursi, memakai meja yang biasa digunakan untuk ngaji," tutur ibu dari siswa kelas 2, Muhammad Jiban itu.
Salah seorang siswa, Riska mengaku lebih suka belajar di sekolah daripada di rumah guru. Sebab, lebih dekat dengan rumahnya. Selain itu, ruangan di sekolah jauh lebih luas. Sehingga, tidak berdesakan.
"Senang belajar di sekolah. Ruangannya besar. Kalau di sini (di rumah guru) kecil," kata siswa kelas 2 yang memiliki cita-cita menjadi guru ini. (riz/hn)
Editor : Muhammad Fahmi