KRATON, Radar Bromo- Ngabuburit sebelum berbuka atau jalan-jalan setelah salah Subuh sebenarnya sah-sah saja dilakukan. Namun, jika itu dilakukan di perlintasan kereta api atau perlintasan sebidang tentu membahayakan.
Inilah yang dilakukan warga di Desa Semare dan Bendungan, Kecamatan Kraton, Kabupaten Pasuruan.
Saat ngabuburit atau selepas Subuh di bulan Ramadan, banyak warga yang keluar rumah untuk jalan-jalan atau sekadar nongkrong. Terutama, remaja dan anak-anak.
Sayangnya, banyak dari mereka malah nongkrong di perlintasan sebidang di JPL 121.
Yaitu, mulai km 58+7 sampai km 59+5. Tepatnya di sepanjang Desa Semare dan Bendungan.
Komandan Pleton Polisi khusus KA (Polsuska) sektor barat PT KAI Daop 9 Jember Prasetiyo Eko mengatakan, tindakan masyarakat itu sangat membahayakan. Baik bagi diri sendiri, maupun bagi perjalanan kereta api.
“Terlalu membahayakan tindakan itu. Apalagi, kecepatan kereta api tahun ini bertambah 100 sampai 120 kilometer per jam. Lebih cepat daripada sebelumnya yang mencapai 70 sampai 80 kilometer per jam,” terangnya.
Karena itu, menurutnya, polsuska langsung melakukan pembinaan dengan cara menegur warga yang nongkrong di perlintasan sebidang. Terutama anak-anak yang bermain di rel.
“Mereka bermain di rel, menata batu di rel, dan melempar batu ke kereta. Bukan hanya membahayakan, tindakan ini perlu dicegah,” lanjutnya.
Sayangnya, upaya petugas itu tidak dihiraukan warga. Buktinya, banyak warga yang tetap saja nongkrong di rel kereta api untuk ngabuburit atau jalan-jalan selepas Subuh.
Saat petugas patrol Polsuska datang, mereka memang menjauh dari rel kereta. Namun, saat petugas sudah tidak ada, warga kembli nongkrong di tempat itu.
“Masih ada saja yang kekeh tetap nongkrong di rel. Yang lebih memprihatinkan itu, banyak anak kecil yang ikut-ikutan main di rel,” katanya. (zen/hn)
Editor : Muhammad Fahmi