Waktu seolah berhenti berputar. Aura masa lalu yang kental terlihat begitu tiba di depan langgar di sudut Desa Sumbersuko, Kecamatan Kejayan, Kabupaten Pasuruan. Bentuk bangunannya khas surau-surau pedesaan.
Tempat ibadah berukuran 6 x 7 meter ini masih berdiri kokoh kendati usianya sudah mencapai sekitar 80 tahun. Dua pilar berukuran cukup besar untuk ukuran langgar itu terpampang di serambi. Sekelilingnya dipasangi pagar bambu yang terpotong rapi.
Atap gentingnya berlumut dan menghitam. Plafonnya terbuat dari anyaman bambu atau gedek yang dicat putih. Beberapa bagiannya sudah berlubang.
“Yang paling sering dibenahi memang atapnya karena sering bocor. Tapi, plafonnya tetap pakai gedek,” ujar Hasyim, 60, anak dari Yasir, pemilik tanah tempat surau itu berdiri.
Sebenarnya, ada banyak surau kuno di desa ini. Hanya saja, sebagian besar sudah dipugar. Bangunannya diperbarui. Bisa dibilang langgar di dekat rumah Hasyim ini yang masih bertahan selama puluhan tahun.
“Kalau bangunannya dari dulu sampai sekarang tetap tidak berubah,” katanya.
Surau yang dibangun secara swadaya pada sekitar 80 tahun lalu ini menjadi saksi bisu perjalanan panjang kehidupan masyarakat Desa Sumbersuko. Hasyim tak ingat persis tahun berapa suraunya dibangun. Yang jelas, saat ia masih kecil, surau itu sudah ada.
“Memang dibangun semasa ayah saya masih hidup,” katanya.
Namun, satu hal yang pasti, surau ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari hidupnya dan warga desa. Dulu, hampir separo anak penduduk Desa Sumbersuko ngaji di surau ini setiap bakda Magrib.
“Bahkan, kadang-kadang ada yang menginap, sudah seperti pesantren,” kenang Hasyim.
Di era sebelum Taman Pendidikan Alquran (TPQ) menjamur, surau ini menjadi pusat pendidikan agama bagi anak-anak desa. Yasir, pemilik tanah sekaligus pengelola surau, dengan sabar mengajarkan huruf hijaiah dan membaca Alquran.
Metode pengajarannya masih ala orang dulu. Tanpa metode khusus. Langsung mengenalkan huruf hijaiah dan mengajarkan mengaji Alquran. Sesekali, anak-anak juga diajarkan diba’ dan ratib.
“Beda dengan sekarang yang memang pengajarannya sudah berjenjang,” ujarnya.
Yang menarik, sebuah kentongan kayu tua tergantung di teras langgar. Usianya jelas setua surau itu sendiri. Kentongan ini dulunya berfungsi sebagai penanda waktu salat, menggantikan pengeras suara yang tak pernah ada di surau ini.
“Hanya saat Ramadan saja saya pasang speaker, karena untuk tadarusan setelah tarawih,” kata Hasyim.
Kini, surau gedek itu masih digunakan untuk salat rawatib, meski jemaahnya terbatas, sebagian besar kerabat Hasyim. Anak-anak yang belajar Alquran pun tak sebanyak dulu. Hamzah, anak Hasyim, mengatakan, ayahnya hanya mengajari anak-anak yang masih keluarga setiap sore.
“Ya, paling ayah ngajari anak-anak yang masih keluarga saja setiap sore,” katanya.
Meski begitu, surau ini tetap memiliki nilai historis dan spiritual yang tinggi bagi masyarakat Desa Sumbersuko. Hasyim berencana mewakafkan surau ini. Semua syaratnya sudah disiapkan.
“Insyaallah tinggal mengajukan ikrar wakaf,” katanya. (m. busthomi/rud)
Editor : Ronald Fernando