PASURUAN, Radar Bromo-Pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak memang telah berakhir. Kamis (20/2), Ada ratusan kepala daerah bakal dilantik. Tak hanya gubernur, tetapi juga bupati hingga wali kota periode 2025-2030.
Meski begitu, pelaksanaan Pilkada 2024 banyak menyisakan drama. Mulai dari tumbangnya incumbent, munculnya kotak kosong, hingga seabrek fenomena lainnya.
Dari sederet drama yang ada, kontestasi Pilbup Pasuruan terbilang fenomenal. Betapa tidak, perolehan suara pasangan calon (paslon) M. Rusdi Sutejo-Shobih Asrori (RUBIH) hingga lebih dari 62 persen, di luar prediksi sebelumnya.
Sebab, lawan politik mereka, paslon Mujib Imron-Wardah Nafisa (MUDAH) digadang-gadang bisa memenangi kontestasi itu dengan mudah.
Hal itu, tak lepas dari berbagai faktor yang ada.
Selain dari sisi ketokohan, di mana Gus Mujib–sapaan Mujib Imron–merupakan sosok kiai ternama yang sempat menjabat Wakil Bupati Pasuruan mendampingi Irsyad Yusuf, juga faktor suara pendukung di kursi parlemen.
Paslon MUDAH didukung oleh 31 kursi di DPRD Kabupaten Pasuruan.
Sementara paslon RUBIH, hanya 19 kursi. Bahkan, hasil survei dari LSI Denny JA yang digandeng paslon MUDAH, sempat menempatkan Gus Mujib-Ning Wardah berada di posisi 49,9 persen.
Jauh unggul dibandingkan paslon RUBIH, yang hanya meraih 22,4 persen.
Situasi inilah, yang membuat banyak persepsi di masyarakat. Jika paslon MUDAH benar-benar akan memenangi kontestasi pilkada di Kabupaten Pasuruan dengan amat mudah. Meski tak dipungkiri, jika sebenarnya tim RUBIH juga memiliki “senjata” yang membuat mereka optimistis.
Yakni, hasil survei dari lembaga lain, The Republic Institute. Di mana, dari hasil survei mereka, RUBIH unggul 53,6 persen suara dibandingkan MUDAH dengan 43 persen suara.
Hingga akhirnya, hari H pencoblosan itu tiba. Suatu hal yang tak diprediksi sebelumnya. Paslon RUBIH, unggul telak dari paslon MUDAH. Dari hasil KPU Kabupaten Pasuruan, RUBIH meraup 62,4 persen suara. Sementara paslon MUDAH, disebut-sebut meraih 37,6 persen suara.
Fenomena inilah yang akhirnya menyita perhatian banyak kalangan. Koordinator Akademi Pemilu dan Demokrasi (APD) Kabupaten Pasuruan Titin Wahyuningsih memaparkan, drama pilkada di Kabupaten Pasuruan memang terbilang fenomenal.
Betapa tidak, Gus Mujib yang dikenal sebagai kiai serta incumbent, kalah dari lawan politiknya.
“Secara ketokohan, sebenarnya masing-masing paslon memilikinya. Gus Mujib adalah mantan wakil bupati atau incumbent. Sementara pasangannya, Ning Wardah, tak lain adalah cucu dari Mbah Hamid. Lalu, untuk paslon 02, Mas Rusdi dan Gus Shobih, merupakan politisi yang duduk di kursi legislatif,” beber perempuan yang pernah dua kali menjadi komisioner KPU dan anggota Bawaslu itu.
Secara hitung-hitungan di atas kertas, paslon MUDAH memang seharusnya bisa menang dengan mudah. Mereka dimodali dengan dukungan 31 kursi parlemen. Sementara RUBIH, hanya 19 kursi. Hal ini semakin diperkuat dengan hasil survei LSI Denny JA yang menyebutkan, jika paslon MUDAH unggul dari RUBIH.
Namun, akhirnya paslon RUBIH lah yang akhirnya memenangi kontestasi pilkada. Beberapa hal ditengarai menjadi faktornya. “Perkawinan” paslon 02 (RUBIH) yang lebih cepat dilakukan ketimbang 01 (MUDAH), menjadi salah satunya. Karena mereka bisa memiliki waktu lebih cepat untuk melakukan gerakan.
“Berbeda dengan 01 yang masih tarik ulur berkaitan dengan sosok pendamping dari Gus Mujib. Ini yang menjadi salah satu faktornya, karena mereka tidak bisa segera tancap gas,” sambung wanita yang pernah jadi panelis pilkada di sejumlah daerah tersebut.
Selain itu, optimalisasi dalam kampanye. Ia menilai, kalau kedua tim paslon, sebenarnya sudah bekerja keras untuk “mempromosikan” jagoannya. Namun, tim paslon 02 dimungkinkan lebih maksimal dalam melakukan penyisiran untuk meraup suara masyarakat.
“Daya dukung seperti apa pun yang dimiliki paslon, tentunya ketetapan strategi pemenangan menjadi kunci keberhasilan. Ini yang mungkin dilakukan 02, hingga akhirnya bisa meraih lebih banyak hati pemilih,” tandasnya.
Di sisi lain, Dewan Pakar Paslon RUBIH, Rohani Siswanto sepakat bahwa hasil survei tak melulu jadi penentu kemenangan. Tapi hasil survei yang dilakukan paslon lawan, jelas mempengaruhi timnya saat pilkada belum digelar. Survei yang dilakukan rival, kata Rohani, sempat memengaruhi opini publik.
Di sinilah dia menilai, lembaga survei harus punya tanggung jawab ke publik. Apalagi jika survei yang dilakukan, tidak sesuai dengan realita. “Sehingga, kesannya ada pesanan,” beber Rohani.
Saat dua pihak menyajikan hasil survei, ini menjadi pelecut bagi timnya untuk berbenah. Supaya popularitas dan elektabilitas terangkat. Begitu juga dengan kampanye paslon. “Paslon kami didukung oleh partai yang jumlahnya lebih sedikit dari rival. Calon wakil kami (Shobih Asrori, Red) bahkan tak punya partai. Tapi tagline Menuju Perubahan yang kami usung, kami perjuangkan hingga berupaya bagaimana caranya memenangi kontestasi,” beber Rohani.
Ketua Tim Hukum Paslon RUBIH Suryono Pane menambahkan, saat ini masyarakat sudah lebih cerdas membaca hasil survei. Saat sama-sama merilis hasil survei, ada margin error yang disertakan serta jumlah responden.
“Bukan semata-mata selisih dari hasil survei. Margin error dan banyaknya responden inilah yang kini dimengerti oleh masyarakat,” beber Suryono Pane.
Sementara itu, Wakil Ketua Bidang Media Tim Paslon MUDAH Yusuf Daniyal menyebutkan, lembaga survei sifatnya memprediksi. Fungsi survei itu sendiri, bukan hanya untuk mengetahui popularitas dan elektabilitas dari paslon. Tapi juga untuk mengetahui kebutuhan yang diinginkan pemilih.
Hasil survei itu sendiri, kata Yusuf Danial, bisa berbeda karena ada beberapa faktor. Mulai dari waktu survei hingga jumlah responden. Ini pun terjadi saat paslon MUDAH menggelar beberapa kali survei.
“Faktor lainnya juga banyak. Termasuk pergerakan tim pemenangan maupun paslon selama kampanye. Dan yang paling penting, dari pemilih itu sendiri,” beber Yusuf Danial. (one/fun)
Editor : Abdul Wahid