PASURUAN, Radar Bromo-Sabtu, 8 Februari 2025 ini, Kota Pasuruan merayakan hari jadinya yang ke 339 tahun. Berbagai fase telah dilalui kota santri –sebutan lain Kota Pasuruan.
Di tahun 2025 ini, hari jadi Kota Pasuruan mengambil tema “Bergerak dengan Hati, Membangun Kota Pasuruan Yang Berkelanjutan,”.
Di usia yang ke-339 tahun, Kota Pasuruan memiliki sejarah yang cukup panjang. Berikut sejarah Kota Pasuruan yang dirangkum dari beberapa sumber.
Pasuruan dan Tanjung Tembikar
Ada beberapa versi tentang asal usul nama Pasuruan. Di masa lalu, Pasuruan lebih banyak dikenal dengan nama “Paravan”.
Namun, orang Tionghoa lebih banyak menyebut Pasuruan dengan sebutan Yanwang atau Basuluan.
Ada juga beberapa sumber yang menyandingkan nama Pasuruan dengan dua kata dasar. Yakni Pasar dan Oeang.
Terkait sebutan itu, tak terlepas dari ramainya perdagangan di Pasuruan kala itu.
Hal tersebut tak terlepas dari ramainya perdagangan di Pasuruan kala itu. Dengan keberadaan Pelabuhan Tanjung Tembikar.
Pelabuhan Tanjung Tembikar itu jadi salah satu magnet. Sehingga mampu menarik banyak kaum pedagang untuk datang ke Pasuruan.
Berkat pelabuhan ini pulalah di masa lalu Kota Pasuruan menjadi salah satu pusat terjadinya transaksi dagang antar pulau di kawasan timur nusantara.
Perkembangan kesejarahan Kota Pasuruan tidak bisa dilepaskan dari keseluruhan sejarah Pasuruan (termasuk Kabupaten).
Seperti naik tahtanya Untung Suropati sebagai salah seorang raja Pasuruan. Ataupun Adipati Dharmoyudo yang secara turun temurun pernah menjadi penguasa Pasuruan.
Namun dari web resmi Kota Pasuruan, secara legalitas formal, kepastian mulai adanya Pemerintah Kota setelah dibentuknya Residensi Pasuruan pada 1 Januari 1901 oleh Pemerintah Hindia Belanda.
Kemudian ditindaklanjuti pembentukan Kota Praja (Gementee) Pasuruan seperti termaktub dalam Staatblat 1918 No. 320 dengan nama Stads Gementee van Pasoeroean pada tanggal 20 Juni 1918.
Semasa Presiden Soekarno, Pasuruan dinyatakan sebagai Kotamadya. Awalnya, saat itu wilayah kekuasaan terdiri dari tiga desa dan satu kecamatan.
Pada 21 Desember 1982 Kotamadya Pasuruan diperluas menjadi 3 kecamatan dengan 19 kelurahan dan 15 desa.
Saat ini Kota Pasuruan memiliki empat kecamatan dan 34 kelurahan. Empat kecamatan itu adalah Kecamatan Bugul Kidul, Gadingrejo, Panggungrejo dan Purworejo.
Kota Pasuruan pun terus berkembang. Sejumlah infrastruktur dibangun. Diantaranya pembangunan kawasan wisata religi Kota Madinah di kawasan Alun-alun Pasuruan dan Masjid Jamik.
Serta, yang saat ini tengah dibangun yakni kawasan Makkah. Kawasan Makkah ini berdiri di Kelurahan Krampyangan, Kecamatan Bugul Kidul. Saat ini progres pembangunannya mencapai 75 persen.
Editor : Muhammad Fahmi