Meski belum berjalan di Pasuruan, ada pihak yang mengaku menjadi korban penipuan berkedok program MBG.
Ada puluhan katering menjadi korban penipuan dengan modus sosialisasi program makanan bergizi gratis (MBG). Namun penipuan ini berhasil diungkap lebih awal.
Lima terduga pelaku diamankan oleh anggota Kodim 0819 Pasuruan, pada Kamis (30/1) lalu. Akibat penipuan ini, korban mengalami yang ditaksir mencapai jutaan rupiah.
Ada 24 orang yang mengikuti sosialisasi itu. Mereka berasal dari Malang dan Pasuruan. Terduga pelaku mengaku mereka perwakilan dari Badan Gizi Nasional (BGN). Para terduga pelaku lalu meminta uang jutaan rupiah sebagai syarat bisa memperoleh tender MBG.
Pengungkapan dugaan penipuan ini bermula dari laporan warga setempat. Kodim 0819 yang menerima laporan ini langsung melakukan pengecekan ke lokasi di sebuah rumah makan di desa Jeruk, Kecamatan Kraton, Kabupaten Pasuruan. Ada tujuh anggota yang mendatangi lokasi.
Setelah dicek, ternyata sosialisasi ini tidak resmi. Kelima orang yang mengaku sebagai perwakilan dari BGN itu tidak bisa menunjukkan identitas resmi sebagai perwakilan pemerintah.
Mereka lantas diamankan ke Makodim 0819 Pasuruan di Jalan Veteran, Kota Pasuruan untuk dimintai keterangan.
Satu orang diketahui berasal dari Jakarta. Dia berinisial Her, 56. Sementara keempat lainnya merupakan warga Pasuruan.
Mereka adalah kepanjangan tangan dari Her untuk merekrut jasa katering yang bisa diajak ikut program iming-iming MBG ini.
Keempat orang ini berinisial Mas, 50, warga Kota Pasuruan. Lalu, An, 63, Ro, 49, dan And, 60. Ketiganya warga Kabupaten Pasuruan.
Para terduga pelaku ini mengatasnamakan perusahaan Halal Bergizi (Halberg) dan menawarkan rekomendasi kemitraan tanpa syarat resmi, seperti izin usaha katering dan standar gizi.
"Mereka ini tidak bisa menunjukkan identitas resmi dan legalitasnya sebagai perwakilan dari pemerintah oleh BGN," ungkap Dandim 0819 Pasuruan, Letkol Inf Noor Iskak melalui Pasi Intel, Kapten Czi Dimas Yulianto.
Kelima terduga pelaku ini kemudian meminta uang dari peserta. Jumlahnya bervariasi. Mulai dari Rp 600 ribu, Rp 1 juta hingga Rp 1,6 juta.
Uang ini lalu diberikan kepada terduga pelaku secara tunai dan transfer dan dilakukan secara berkala.
Dari keterangan terduga pelaku, kata Pasi Intel, uang itu alasannya untuk dana transportasi petugas yang berkunjung, pembuatan proposal hingga biaya konsumsi kegiatan.
"Jumlah yang diberikan korban pada terduga pelaku cukup besar. Sebab, korbannya ada 24 orang. Dan diberikan kepada mereka secara rutin untuk kebutuhan yang sebenarnya tidak ada," tutur Dimas.
Setelah dimintai keterangan oleh Kodim, kelima terduga pelaku ini diserahkan ke Polres Pasuruan Kota untuk penyelidikan lebih lanjut. Hingga Jumat (31/1) petang, pemeriksaan pada terduga pelaku masih berlangsung.
Informasi ini pun dibenarkan oleh kasi humas Polres Pasuruan Kota, Aipda Muhammad Junaidi.
"Betul. Sekarang masih diperiksa oleh penyidik. Terkait modus dan siapa saja mereka tunggu penyelidikan selesai," tutur Jun-sapaannya. (riz/fun)
Editor : Abdul Wahid