Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Rutin Dinormalisasi, Namun Banjir di Pasuruan Tetap Meluas, Ini Penjelasan PU SDA Jatim

Fuad Alyzen • Kamis, 30 Januari 2025 | 21:57 WIB

 

Dua warga Kebrukan, Grati menerjang banjir yang setinggi sedada orang dewasa, Rabu (29/1). (Mokhamad Zubaidillah/ Radar Bromo)
Dua warga Kebrukan, Grati menerjang banjir yang setinggi sedada orang dewasa, Rabu (29/1). (Mokhamad Zubaidillah/ Radar Bromo)

GRATI, Radar Bromo – Banjir kembali terjadi di wilayah Pasuruan. Banjir kali ini bahkan meluas di delapan kecamatan. Penyebabnya, karena sejumlah aliran sungai meluap.

Sebelum banjir terjadi, hujan turun dengan intensitas tinggi. Sehingga, menyebabkan debit air sungai meningkat dan akhirnya meluap.

Di sisi lain, Dinas PU Sumber Daya Air Provinsi Jatim mencatat hal yang tak biasa. Banjir akibat luapan air sungai semakin meluas di beberapa wilayah Pasuruan. Karena kondisi ini, diyakini beberapa tanggul jebol.

Kepala UPT PSDA Wilayah Sungai Welang-Pekalen Dinas PU Sumber Daya Air Provinsi Jawa Timur Anton Dharma mengatakan, banjir di Pasuruan sudah biasa terjadi. Namun, kali ini banjir semakin meluas. Padahal, sungai rutin dinormalisasi setiap tahun.

Bahkan, banjir meluap ke area selatan. Karena itu, Rabu (29/1), pihaknya memutuskan untuk melakukan survei ke beberapa lokasi. Terutama, titik-titik yang diyakini ada tanggul jebol.

Dan hasilnya, dugaan itu ternyata benar. Petugas menemukan tanggul longsor di lima titik.

Di antaranya, sungai Petung di Desa Sekarputih, Kecamatan Gondangwetan. Tanggul di wilayah ini longsor sepanjang 25 meter.

Lalu, di Kelurahan Blandongan, Kecamatan Bugul Kidul, juga ditemukan tanggul yang longsor. Panjangnya 10 meter.

Kemudian, di Sungai Welang, juga ada tanggul jebol sepanjang 20 meter. Yaitu, di Desa Sukorejo, Kecamatan Pohjentrek.

Lantas di Kelurahan Karangketug, Kecamatan Gadingrejo, juga ada tanggul jebol. Ini yang paling panjang, mencapai 50 meter.

Selanjutnya, di Sungai Sumbermade, Desa Bayeman, Kecamatan Gondangwetan, juga ada tanggul longsor. Panjangnya 40 meter.

Anton menduga, air sungai yang debitnya meninggi meluap melalui tanggul yang jebol. Sebab, ada jejak luapan air di area tersebut.

Kalaksa BPBD Kabupaten Pasuruan Sugeng Hariyadi menegaskan hal serupa. Menurutnya, banjir akibat air sungai yang meluap semakin meluas. Di Kabupaten Pasuruan terjadi di delapan kecamatan dan sejumlah desa.

Di antaranya, tiga desa di Kecamatan Pasrepan; empat desa di Kecamatan Winongan; dua desa di Kecamatan Grati. Lalu, enam desa di Kecamatan Rejoso; satu desa di Kecamatan Gondangwetan, Beji, Pohjentrek, dan Kraton.

“Ketinggian banjir beragam. Antara 30 sampai satu meter lebih di beberapa wilayah,” katanya.

Menurutnya, banjir dipicu oleh cuaca yang sangat ekstrem. Dan hal itu terjadi di seluruh Jawa Timur. Termasuk di Pasuruan.

Banjir di Pasuruan akan makin berpotensi terjadi saat daerah hulu di Pasuruan dan Malang sedang hujan deras.

Faktor kedua, karena banyaknya tanggul yang jebol. Sehingga, menambah luas luapan banjir dari sungai.

Hingga Rabu (29/1) sore, pihaknya kembali memberitakan peringatan akan kemungkinan terjadi banjir susulan. Sebab, debit air sungai di area hulu meninggi.

Pihaknya pun sudah melakukan sejumlah upaya langsung untuk menghadapi banjir. Di antaranya, melakukan asesmen untuk membagikan makanan siap saji, nasi bungkus, pelayanan kesehatan, dan lainnya.

Sementara itu, banjir di sejumlah permukiman membuat aktivitas masyarakat terganggu. Seperti yang terjadi di Desa Kadawungkulon, Kecamatan Grati.

Air tak hanya menggenangi permukiman, tapi juga jalan Kabupaten Pasuruan. Akses jalan pun tak bisa dilewati kendaraan. Ketinggian banjir rata-rata antara 30 sampai 100 sentimeter, membuat warga tak bisa banyak beraktivitas.

Air keruh ini mulai datang sejak Selasa (28/1) pukul 17.00. Air makin meninggi pada tengah malam. Lalu sampai Rabu (29/1), air tidak kunjung surut. Sehingga, aktivitas masyarakat lumpuh.

 “Selasa jam lima itu, banjir mulai datang. Hingga Rabu belum juga surut. Lumpuh total, tidak bisa aktivitas. Ini saya mau ngantarkan adik jalan kaki menyeberangi genangan air setinggi dada,” terang Saiful, warga Dusun Kebrukan, Desa Kedawung kulon.

Kusnan, warga Desa Winongan Lor, juga mengaku terganggu dengan banjir. Setiap hari, dia mengunjungi anaknya di Dusun Kebrukan, Desa Kedawung Kulon, Grati. Biasanya, dia naik sepeda. Namun, karena banjir terpaksa Kusnan harus jalan kaki.

 “Setiap hari ke sini saya. Biasanya naik sepeda. Tapi gak bisa naik sepeda karena banjir sekarang,” katanya.

Banjir juga membuat arus lalu lintas tersendat di beberapa titik jalan nasional. Kendaraan berjalan pelan, sehingga menyebabkan kondisi lalu lintas padat merayap.

Seperti di Jalan Pantura Desa Kalirejo, tepatnya di barat PT CJI. Lalu di Desa Sambisirah, yaitu di timur kantor BLK. Di dua lokasi ini, ketinggian banjir mencapai 30 sampai 40 sentimeter. (zen/hn)

Editor : Muhammad Fahmi
#banjir #pasuruan #bpbd #Normalisasi anak sungai #Grati #rejoso #jatim