Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Pondok Milik Petani Wonokitri Tosari Ini Dibakar oleh TNBTS, Lahannya Dirusak, Begini Kejadiannya

Fuad Alyzen • Selasa, 7 Januari 2025 | 01:17 WIB

 

 

DIBAKAR: Pondok semi permanen yang difungsikan sebagai gudang milik petani Sanip di Desa Wonokitri, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan dibakar oleh petugas TNBTS. 
DIBAKAR: Pondok semi permanen yang difungsikan sebagai gudang milik petani Sanip di Desa Wonokitri, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan dibakar oleh petugas TNBTS. 

TOSARI, Radar Bromo - Sebuah pondok semipermanen milik petani di Desa Wonokitri, Tosari, Kabupaten Pasuruan, hangus terbakar. Pondok itu sengaja dibakar oleh Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) karena berdiri di lahan TNBTS.

Informasi yang diperoleh radarbromo.jawapos.com, pondok yang dijadikan gudang itu milik Sanip, petani asal Desa Pusungmalang, Kecamatan Puspo, Kabupaten Pasuruan.

Namun, Sanip menggarap lahan di kawasan Desa Wonokitri, Kecamatan Tosari. Sanip menggunakan pondok itu untuk menyimpan bibit kentang, obat-obatan pertanian, dan peralatan pertanian miliknya.

 Akibatnya, Sanip mengalami kerugian cukup besar. Sebab, seluruh isi di pondok itu habis terbakar. Belum lagi kerugian akibat tanaman milik Sanip yang juga dirusak oleh TNBTS.

Peristiwa tersebut sebenarnya terjadi pada Senin, 31 Desember 2024. Namun, sampai saat ini belum ada penyelesaian.

Kepala Desa Pusungmalang Ahmad Baidowi mengaku sangat menyesalkan kejadian itu. Sebab, sepengetahuannya, tidak ada mediasi dari TNBTS sebelumnya dengan Sanip. Tiba-tiba saja pondok milik warganya itu dibakar.    

 “Saya prihatin sangat mendalam atas peristiwa ini. Jika memang benar bangunan itu berdiri di lahan TNBTS, kenapa tidak ada mediasi atau upaya penyelesaian yang lebih manusiawi sebelumnya,” katanya.

Seharusnya, menurut Ahmad, TNBTS tidak langsung membakar bangunan dan merusak lahan milik Sanip.

Tindakan itu sangat arogan dan tidak manusiawi. Bahkan, membuat Sanip menderita kerugian sangat besar.

Apalagi lanjutnya, Sanip bukan petani berada. Dia harus berutang modal untuk membeli bibit kentang dan obat-obatan pertanian.

 “Seharusnya kalau memang ada masalah, dilakukan mediasi terlebih dahulu. Minimal panggil petaninya lewat saya, karena korban ini warga saya,” tambahnya.

Baidowi meyakini, pembakaran ini dilakukan oleh oknum petugas TNBTS. Informasi tersebut didapat dari salah seorang warganya yang mengaku bahwa oknum tersebut menyuruhnya untuk menyampaikan kepada kepala desa.

“Saya diberitahu warga saya. Katanya, oknum tersebut mengaku telah membakar gudang Pak Sanip. Dia meminta warga saya itu untuk menyampaikan ke saya,” sampainya.

Karenanya, Baidowi meminta pihak TNBTS memberikan klarifikasi atas insiden ini. Dia juga meminta aparat hukum mengusut tuntas kasus tersebut.

“Kami ingin kasus ini diselidiki dengan adil dan pihak yang bertanggung jawab harus dihukum dan mengganti kerugian petani. Sebab, tindakan seperti ini sangat tidak dibenarkan, sangat arogan,” katanya.

Kades Keduwung, Kecamatan Puspo, Mruripani mengungkap fakta lain. Menurutnya, masalah seperti itu sebenarnya sudah lama terjadi. Namun, belum pernah ada langkah khusus untuk menyelesaikan masalah ini.

Konflik ini bahkan tidak hanya terjadi di Wonokitri. Namun, terjadi antara TNBTS dengan petani di hampir seluruh desa yang wilayahnya berbatasan dengan hutan atau lahan TNBTS.

“Penyelesaiannya kebanyakan seperti itu. Perusakan bangunan dan tanaman milik warga. Itu yang merusak petugas TNBTS sendiri. Seharusnya tidak seperti itu,” terangnya.

Mruripani mengatakan, mestinya ada batas yang jelas antara lahan milik TNBTS  dengan lahan warga atau petani. Bahkan, jika perlu, diberi pembatas khusus.

 “Faktanya, dari dulu sampai sekarang tidak ada pembatas. Akhirnya ya begini. Di lapangan, warga mau menanam atau membangun, kemudian diakui lahan TNBTS,” lanjutnya. (zen/hn)

Editor : Muhammad Fahmi
#pasuruan #petani #wonokitri #tnbts #pondok #tosari