Awal musim hujan yang melanda Pasuruan sudah membuat sejumlah desa terendam banjir. Mereka harus kembali menghadapi bencana klise yang hampir terjadi tiap tahun. Jika awan mendung sudah menggelayut, itu tandanya mereka harus siap-siap.
FUAD ALYZEN, Pasuruan, Radar Bromo
Jalan menuju Dusun Bandaran, Desa Jarangan, Kecamatan Rejoso, memang sudah tidak tergenang lagi. Beberapa rumah warga juga telah bersih setelah mereka kerja bakti. Hanya saja tanah becek masih terlihat di sisi kanan dan kiri jalan. Maklum, hujan juga masih kerap turun selama beberapa hari ini.
Sebenarnya bukan hanya di Desa Jarangan saja yang terendam banjir. Desa lain seperti Rejoso Lor, Toyaning, dan Patuguran, juga kena imbas karena meluapnya sungai dan anak sungai. Jika dirinci detal lagi, selain Rejoso, ada sejumlah desa di Kecamatan Winongan, Grati dan Gempol di Kabupaten Pasuruan, yang sudah terdampak banjir.
Namun paling parah, memang ada di Jarangan, Rejoso. Sebab air menggenangi perkampungan sampai dua hari lamanya.
Bahkan beberapa waktu lalu, Menteri Sosial Saifullah Yusuf, sampai meninjau ke lokasi seraya memberi bantuan.
Banjir di Jarangan masuk dalam rumah begitu mengganggu sekali. Bahkan sampai ada yang mengungsi ke rumah saudara dan baru balik setelah banjir surut. Mengungsi ini seakan menjadi rutinitas warga Jarangan, setiap kali musim hujan tiba dan banjir melanda.
“Saya ingin terbebas dari banjir ini. Sudah bertahun-tahun rutin begini. Kali ini termasuk yang parah,” kata Marliya, 50, warga RT 3/RW 2, Dusun Bandaran, Desa Jarangan, Kecamatan Rejoso.
Saat banjir yang terjadi Sabtu (7/12) lalu, kerugian yang dialami Marliya banyak. Selain waktu, ada sejumlah barang-barang yang tak terselamatkan dan tidak digunakannya lagi. Misalnya barang eletronik, alat memasak dan lainnya. Padahal barang-barang itu ada yang baru dimilikinya.
Bukan hanya kerugian materil. Penyakit kulit menimpa semua keluarganya. Dia dan anak-anaknya terkena gatal-gatal. “Karena air sudah tercampur kotoran yang macam-macam,” ucapnya.
Marliya yang sempat mengungsi juga bercerita, tak bisa tidur nyenyak. Karena harus tidur secara berdampingan. “Begini ini jika tempat tinggalnya berdekatan dengan laut. Saat banjir dating, untungnya air laut tidak sedang pasang. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana jika laut sedang pasang. Tentu banjir bisa lebih tinggi.
“Aku wis wegah, Mas. Inginnya bebas dari banjir. Setiap tahun begini terus,” katanya sembari memohon.
Hal serupa juga dialami Siti Fatimah, 42, warga RT 3/RW 2, Dusun Bandaran, Desa Jarangan. “Saya juga ingin bebas dari banjir. Minimal mengurangi, bukan malah tambah parah. Tahun ini parah,” kata korban yang juga mengungsi di Desa Jarangan ini.
Kerugian yang dialami Siti Fatimah juga sama. Selain perabotan rumah tangga, banyak sawahnya yang diperkirakan bakal gagal panen. Bukan hanya itu. Tambak ikan bandeng milik warga juga banyak yang jebol lantaran debit air yang semakin meninggi. “Harapan saya hanya ingin bebas dari banjir ini,” akunya.
Dia mengaku, yang dikasihani adalah anaknya yang berusia 10 tahun. Dia harus istirahat di lokasi pengungsian, yang pada malam hari dia akan terkena angin malam.
Banyak juga yang seusia anaknya ikut mengungsi. Mereka semua harus libur sekolah akibat banjir ini.
Siti bilang, ini baru banjir pertama di awal musim hujan. Jika dibandingkan dengan musim hujan sebelumnya, kondisinya lebih parah.
Keresahan juga dialami Rofiah, 39, korban banjir yang juga sempat mengungsi di tenda Desa Jarangan. “Setiap tahun harus begini,” kata warga RT 3/RW 2, Dusun Bandaran, Desa Jarangan.
Warga lainnya Asrori, 49, yang juga mengungsi bercerita, sejatinya hujan sudah turun sejak Jumat (6/12). Saat itu firasatnya sudah terasa bahwa wilayahnya akan tergenang air banjir. Benar saja, sekitar pukul 21.00 banjir di rumahnya semakin meninggi.
Waktu itu juga warga di Dusun Bandaran ini tidak ada yang tidur. Karena ketinggian mencapai 50 sentimeter. Mereka sibuk untuk menyelamatkan barang-barang berharganya.
Tak hanya di wilayah Kecamatan Rejoso. Di wilayah Kecamatan Winongan juga mengkhawatirkan adanya banjir susulan dari luapan sungai.
“Saya masih trauma banjir akan masuk dalam rumah,” kata Basori, 57, warga Desa Winongan Kidul, Kecamatan Winongan.
Jumat (6/12) kemarin rumahnya kemasukan air, setinggi pinggang orang dewasa. Untungnya waktu itu listrik sedang padam. Namun, banyak alat-alat elektronik miliknya banyak yang rusak. “Lekas surut sih. Paginya sudah mulai mengurangi,” katanya.
Basori hanya menyayangkan barang dagangannya. Tempe jualannya yang setiap hari menjadi pemasukannya, malah rusak karna terendam banjir. Diapun terpaksa libur jualan tempe keliling.
“Ya, mau bagaimana lagi mas. Mau dibikin lagi ya tidak bisa. Siapa yang mau makan tempe yang sudah terendam air campuran dari mana-mana,” katanya.
Banjir juga membuat motornya mogok karena terendam banjir. Lagi-lagi dia harus mengeluarkan biaya untuk memperbaikinya. Karna jika tidak diperbaiki, motor yang digunakan untuk bekerja, pasti akan rusak.
Basori juga masih ingat saat banjir dating. Dia harus menyusun meja saat tidur agar tidak terkena air. Tidurnya juga harus bergantian dengan keluarga. “Saya utamakan cucu, anak perempuan dan istri saya,” katanya.
Untungnya Basori memiliki saudara-saudara yang selalu mengirimkan makanan dan uang. Layaknya penerima awal tetap, hamper setiap banjir, keluarganya rutin mengirimkan uang. “Saya berharap banjir tidak terjadi setiap tahunnya. Itu saja yang saya harapkan,” katanya.
Begitu juga warga Desa Kedawung Wetan, Kecamatan Grati seperti Hoirul, 33, dan Irfan Dwi, 47. Keduanya benar-benar menginginkan sekali desanya terbebas dari banjir. Karena sudah bertahun-tahun sudah pasti banjir dari luapan sungai.
“Ini baru awal musim hujan kali ini. Bagaimana kedepannya selama musim hujan ini,” katanya.
Banyak masyarakat Kabupaten Pasuruan yang daerahnya langganan banjir, ingin ada solusi dari pemerintah. Mereka tidak ingin setiap tahunnya selalu menjadi korban banjir dan hanya dikirim bantuan logistik. Setidaknya ada pencegahan yang lebih efektif. (fun)
Editor : Abdul Wahid