Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Kafe Ini Dikelola Warga Binaan Lapas IIB Pasuruan, Punya Sembilan Barista Khusus yang Kelola Kafe Bergantian

Fahrizal Firmani • Selasa, 29 Oktober 2024 | 05:22 WIB
KAFE JANA: Suasana Kafe Jana di Lapas IIB Pasuruan yang dikelola oleh WB Lapas IIB Pasuruan. Ada Sembilan barista yang mengelola kafe ini secara bergantian. (Fahrizal Firmani/Jawa Pos Radar Bromo)
KAFE JANA: Suasana Kafe Jana di Lapas IIB Pasuruan yang dikelola oleh WB Lapas IIB Pasuruan. Ada Sembilan barista yang mengelola kafe ini secara bergantian. (Fahrizal Firmani/Jawa Pos Radar Bromo)

BERBAGAI keterampilan diberikan oleh Lapas IIB Pasuruan bagi warga binaan (WB).

Di antaranya membuat minuman. Dari sana, para WB dilibatkan dalam mengelola Kafe Jana yang dibuka untuk melayani keluarga WB.

Seorang lelaki memasukkan bubuk kopi ke dalam portafilter. Lalu ditekan menggunakan tamper secara berulang kali.

Hingga bubuk kopi itu dinilai halus. Kopi yang sudah halus itu lantas dimasukkan ke cangkir untuk disajikan.

Begitulah pemandangan yang rutin terlihat di areal lapangan, dekat kamar hunian WB di Lapas IIB Pasuruan. Areal di dekat kamar hunian itu oleh Lapas disulap menjadi kafe dan diberi nama Kafe Jana. Yang menjadi barista adalah WB.

"Perlu ditekan berulang kali agar bubuk kopi bisa menjadi padat dan merata. Semakin halus bubuk kopinya, maka semakin pahit," kata salah satu barista, Soni Liong, 54.

Pria yang menjadi WB sejak 2023 ini mengaku, keahliannya meracik kopi didapatkan dari teman WB yang menjadi barista pada 2022. Saat itu, ia diajarkan ketika masih di Lapas Porong, Sidoarjo. Tidak hanya membuat kopi, namun juga minuman manis.

Ia mempelajari keterampilan ini selama dua pekan. Paling sulit adalah membuat kopi. Sebab proses pembuatannya cukup lama, karena yang digunakan bukan bubuk kopi. Melainkan kopi batangan. Sehingga harus dihancurkan dahulu.

Prosesnya bisa 30 menit menunggu kopi digiling hingga halus, sampai akhirnya siap disajikan. Saat dipindah ke Lapas IIB Pasuruan, keahlian ini diketahui oleh Lapas setempat. Sehingga, Lapas meminta agar Soni menjadi barista untuk Kafe Jana.

"Mulai 2024 diminta menjadi barista oleh Lapas. Kebetulan ada program pembinaan. Saya diminta memberikan keahlian ini pada teman lain," kata Soni.

WB yang terjerat hokum, karena pemakaian narkoba ini menyebut, tidak hanya kopi yang disajikan di Kafe Jana. Juga ada minuman manis, hingga minuman panas.

Agar penyajian tidak terlalu lama, kopi yang digunakan bukan kopi batangan. Melainkan yang berupa bubuk kopi.

Pelanggan kafe itu sendiri adalah pengunjung Lapas. Mulai dari tamu penting, hingga keluarga dari WB. Harga yang harus dibayar untuk mendapatkan minuman atau kopi sangat terjangkau.

Untuk es kopi Rp 18 ribu. Sedangkan minuman dingin tanpa susu hanya Rp 8 ribu. Lalu yang menggunakan susu, Rp 10 ribu. Keluarga WB bisa membayar tunai, bisa juga menggunakan e-money.

Ada sembilan orang yang menjadi barista di kafe itu. Mereka mengelola kafe secara bergantian.

"Senang bisa menjadi barista. Jadi tidak jenuh dengan kegiatan selama di Lapas. Bisa ketemu dan melayani orang lain," tutur Soni.

Kafe Jana ini buka setiap pukup 10 sampai pukul 12 siang. Lalu istirahat 30 menit untuk beribadah. Kemudian kembali buka mulai pukul 12.30 hingga 15.00.

“Cuma pernah ada kejadian, ada keluarga yang tidak tahu bahwa e-money miliknya sedang kosong. Sehingga ia tidak bisa membayar. Dan baru membayar di hari berikutnya. Tapi tidak masalah,” katanya.

Soni pun berencana selepas dari Lapas akan membuka usaha warung kopi atau kafe. Ketrampilan yang didapatkan sebagai barista selama di Lapas akan dikembangkan di masyarakat. Ia jera dan tidak ingin kembali ke Lapas karena barang haram.

"Insya Allah saya mau mengembangkan keahlian saya. Kapok dihukum. Mau menjalankan bisnis saja, asal bisa kumpul keluarga," tutur Soni.

Barista lain yang juga seorang WB, Sulastiko Febri, 25, mengaku, memiliki keahlian sebagai barista dari Soni. Febri (panggilannya) mengaku senang memiliki keahlian membuat kopi. Cuma saat belajar dahulu, ia sempat gugup dan bingung.

Ia selalu khawatir pembeli tidak menyukai kopi atau minuman buatannya. Dan memang di awal, beberapa orang mengeluh kopi buatannya terlalu manis. Ada pula yang mengeluh terlalu pahit.

"Dulu tidak tahu takaran yang tepat. Sekarang sudah bisa mengira-ngira, jadi tidak ada yang mengeluh lagi," terang Febri.

Warga asal Kabupaten Gresik ini juga mengaku, sangat ingin membuka usaha warung kopi atau kafe selepas dari Lapas.

Febri mengaku kapok dan tidak ingin mengulangi masalah yang sama. Febri sendiri dihukum sejak 2022, karena menggunakan sabu-sabu. 

"Jauh dari keluarga dak enak. Begitu keluar dari Lapas, mau buka warung kopi dekat rumah. Walau sedikit asal bisa kumpul keluarga," katanya.

Kepala Kesatuan Pengamanan Lapas (KPLP) Pasuruan, Taufiqul Hidayatullah menuturkan, Lapas bertujuan membina WB. Karena itu, pembekalan keahlian ini sangat penting bagi mereka usai bebas dari hukuman.

"Hasil dari keahlian WB dalam menjadi barista kembali pada mereka dengan dimasukkan dalam e-money. WB bisa menggunakan untuk membeli sesuatu," jelas Taufik. (riz/hn)

Editor : Moch Vikry Romadhoni
#pemerkosaan #pencabulan #polres probolinggo #perkosaan #persetubuhan bantaran #pakde setubuhi keponakan #unit ppa