BERDIRINYA Jawa Pos Radar Bromo di Pasuruan, memiliki cerita yang panjang. Sempat berpindah-pindah kantor hingga enam kali. Bahkan, mendirikan biro di Pandaan.
Kantor Jawa Pos Radar Bromo berdiri sejak tahun 1999. Wartawan Jawa Pos yang kala itu membentuk Radar di kawasan Probolinggo dan Pasuruan, menjulukinya Radar Bromo.
Penamaan Radar Bromo, lantaran wilayah Pasuruan dan Probolinggo berada dekat dengan kawasan Gunung Bromo.
Bisa dibilang, penamaan Radar Bromo terbilang unik. Karena umumnya, penamaan Radar, lebih menonjolkan nama daerah.
Namun, tidak dengan Radar Bromo, yang lebih menonjolkan nama gunung. Dan ini, menjadi satu-satunya Radar yang bisa dikatakan memiliki gunung.
Pencetus Radar Bromo adalah Jawa Pos. Kala itu, Radar Bromo langsung meliputi Radar Pasuruan dan Probolinggo. Namun, kantor utamanya di Probolinggo.
Wartawan Jawa Pos yang yang kala itu diutus adalah Nur Hidayat (wartawan Probolinggo) dan Johar Mahmudi (wartawan Pasuruan).
Awal Radar Bromo berdiri, ada enam orang “pasukan” yang dimiliki. Selain satu orang Redaktur yakni alm. Johar Mahmudi, ada empat wartawan yang bertugas.
Mereka adalah Joko Hariyanto yang kini menjadi wartawan MNC Media, Jainur Rifan, Anshita, serta Nur Laily Arifiyah.
Sementara, satu orang lainnya, bertugas sebagai admin. Yakni, Ninik Tri Wahyuni.
Kali partama didirikan, Radar Pasuruan berkantor di sebuah bangunan kecil di Jalan Pattiunus, Kelurahan Krampyangan, Kecamatan Bugul Kidul.
“Saya masuk bulan September tahun 1999. Saya wartawan di Kota Pasuruan, Joko bagian kriminal,” ujar Kabiro Radar Bromo Pasuruan Nur Laily Arifiyah.
Tahun 2002, Radar Pasuruan berpindah kantor di bangunan nomor 58 di Jalan Gajah Mada, Kelurahan Karanganyar, Kecamatan Panggungrejo. Bangunan kecil yang ukurannya mini.
Lalu pada tahun 2005, Radar Pasuruan berpindah kantor lagi di Jalan Wironini, Kelurahan Gentong, Kecamatan Gadingrejo.
Setelah dua tahun kemudian, tahun 2007 berpindah ke Perum Karya Bakti, Jalan Raden Patah, Kelurahan Gentong, Kecamatan Gadingrejo.
“Dulunya kantor keempat ini adalah rumah,” imbuhnya saat diwawancara di Kantor Radar Bromo Pasuruan.
Tahun 2011, kantor Radar Pasuruan pindah ke Jalan Veteran, Kelurahan Kandangsapi, Kecamatan Panggungrejo. Di sana, berlangsung cukup lama.
Sekitar kurang lebih 7 tahun. Hingga pada 2017, berpindah kantor lagi di lingkungan ruko Parimas, Jalan Panglima Sudirman, Kelurahan/Kecamatan Purworejo.
“Tak terasa, sudah delapat tahun lamanya menempati ruko Parimas,” ungkap Evi-sapaannya.
Evi menyimpulkan, bangunan yang sempat dihuni sebagai kantor Radar Bromo Pasuruan, telah bertransformasi fungsi.
Kantor pertama, kini menjadi Salon Bella di Jalan Pattiunus, Kelurahan Krampyangan, Kecamatan Bugul Kidul.
Sementara kantor kedua, menjadi rumah pribadi. Dan untuk kantor ketiga, menjadi kios makanan di Jalan Wironini, Kelurahan Gentong, Kecamatan Gadingrejo.
Lalu untuk kantor keempat, telah menjadi rumah pribadi. Sedangkan kantor kelima, ditempati Bank Mandiri.
Menurut Joko Hariyanto, eks wartawan Jawa Pos Radar Bromo, SDM Radar Bromo Pasuruan waktu itu memang minim.
Namun, seiring berkembangnya waktu, jumlahnya bertambah.
“Dahulu, karyawannya memang hanya beberapa. Tapi sekarang, Alhamdulillah kian berkembang, maju, dan sukses. Begitu juga dengan halamannya, yang semakin variatif,” paparnya.
Selain di Kota Pasuruan, Radar Bromo Pasuruan juga sempat mengepakkan sayapnya dengan mendirikan Biro Pandaan. Pendirian Biro Pandaan, bahkan sempat dilakukan dua kali.
Dimulai tahun 2007 silam. Sebuah bangunan rumah yang ada di tepi jalan By Pass Pandaan, Lingkungan Kasri, Kelurahan Petungasri, Kecamatan Pandaan, dijadikan kantor pertama.
Namun, hal itu tak lama. Karena hanya berlangsung setahun. Baru pada 22 Januari 2014 kemudian.
Pendirian kantor Biro Pandaan kembali direalisasikan. Kali ini, gedung ruko di Little Shanghai, Taman Dayu, Kecamatan Pandaan, dijadikan kantor. Keberadaan kantor di Pandaan tersebut, berlangsung dua tahun.
“Pernah ada Kantor Biro Pandaan, dengan menempati ruko di Taman Dayu. Hanya berjalan dua tahun, setelah itu balik jadi satu dengan Biro Pasuruan,” beber Muhammad Hidayat, mantan wartawan Jawa Pos Radar Bromo. (zen/zal/one)
Editor : Jawanto Arifin