PASURUAN, Radar Bromo - Tradisi praonan mewarnai perayaan Hari Ketupat di Pasuruan.
Sejumlah nelayan di pesisir Pasuruan melakukan tradisi ini. Menariknya, tradisi ini diikuti oleh warga luar kota Pasuruan.
Tradisi praonan adalah rekreasi dengan berjalan keliling pantai menggunakan perahu yang sudah dihias dan disewakan oleh nelayan setempat.
Kegiatan ini diikuti oleh nelayan Semare, Kecamatan Kraton; nelayan Kota Pasuruan hingga nelayan pesisir Lekok.
Untuk masyarakat yang ingin masuk ke lokasi, dikenakan biaya masuk sebesar Rp 2.000 per orang.
Selain itu, kendaraan roda dua dikenakan retribusi parkir Rp 3.000 per unit. Sedangkan retribusi parkir untuk roda empat Rp 5.000 per unit.
Salah seorang nelayan Jatirejo, Kecamatan Lekok, Abdullah mengungkapkan, perayaan ketupat selalu membawa berkah.
Setiap tahunnya, banyak pengunjung yang datang. Tidak hanya warga setempat, tapi juga dari luar Pasuruan.
Sama seperti kebanyakan nelayan lain, ia memanfaatkan perahunya untuk disewakan pada pengunjung yang ingin berkeliling dengan perahu.
Penumpang bisa membayar sukarela. Rata-rata berkisar Rp 5 ribu sampai Rp 10 ribu per orang.
“Agar penumpang aman, sudah disiapkan keamanan bagi mereka. Seperti, pelampung. Kondisi cuaca cerah, angin tidak terlalu kecang,” kata Abdullah.
Kulnisak, 45, nelayan asal Jatirejo, Kecamatan Lekok lainnya menyebut, ia tengah mengantarkan saudaranya.
Sehingga tidak ada pungutan. Namun, jika orang lain bisa membayar sukarela.
Penumpang bisa melakukan wisata edukasi bahari. Selain, berkeliling di pesisir pantai Lekok, juga bisa menyaksikan keramba yang digunakan sebagai alat ternak ikan di sepanjang pesisir pantai.
Tradisi ini berlangsung selama dua hari sampai hari ini (17/4).
“Seharian ini memuat dan berkeliling sebanyak enam kali. Kebetulan seluruhnya adalah keluarga sendiri, sehingga tanpa biaya,” jelasnya. (riz/one)
Editor : Jawanto Arifin