PASURUAN, Radar Bromo- Angin musim barat tampaknya masih jadi momok bagi sebagian besar nelayan tradisional Pasuruan.
Akibat cuaca ektrim ini, para nelayan pesisir setempat, sementara berhenti melaut.
Fenomena musim angin barat, mereka namai sebagai musim paceklik ikan.
Sebab, selain mendapatkannya sulit, ketersediaan ikan di permukaan juga sedikit. Alhasil, pasokan ikan pun jadi seret.
Anas (60) nelayan asal Desa Jatirejo, Kecamatan Lekok, Kabupaten Pasuruan mengaku, bia beserta rekan-rekannya libur melaut sejak tiga hari kemarin.
Pasalnya, kondisi angin di perairan laut berhenbus sangat kencang.
Sehingga menyebabkan ombak yang cukup besar.
“Tepatnya sejak nampani puasa. Hampir semua nelayan di sini libur. Anginnya besar. Sangat membahayakan keselamatan,” kata Anas saat ditemui tengah menjaga perahunya di parkiran area TPI Lekok, Kamis (14/2/2024) siang.
Sejak libur melaut, pria yang sudah puluhan tahun menjadi nelayan ini pilih mencari kerang bersama istrinya.
Kerang-kerang tangkapannya itu, mereka jual ke pasar.
Saat ini, perkilogram kerang dihargai Rp 30 ribu.
Anas mengaku dalam sehari ia bisa mendapatkan kerang antara 3 kilogram sampai 5 kilogram.
“Nyari kerangnya saat kondisi air laut surut. Biasanya sih sore hari. Kalau pagi sampai siang saya jagain perahu. Takut kalau-kalau dihantam ombak,” terang Anas.
Kordinator Kelompok Pengawas Masyarakat Pesisir (Pokwasmas) wilayah Timur Kota Pasuruan, Bashori (54) mengaku, para nelayan di wilayahnya sudah libur melaut sejak lima hari lalu.
Menurutnya, kondisi angin musim barat ini sangat riskan untuk keselamatan.
Selain itu, kalaupun dipaksakan melaut, hasil tangkapan ikan jauh dari harapan.
“Nggak sumbutlah pokoknya. Kami menyebutnya musim paceklik ikan. Makanya kalo musim angin barat seperti ini, para nelayan pilih libur. Sampai kondisi normal.” ungkap Bashori yang juga seorang nelayan asal Kelurahan/Kecamatan Panggungrejo, Kota Pasuruan tersebut.
Pihaknya pun tidak bisa memprediksi kondisi tersebut, akan berlangsung berapa lama. Umumnya, bisa sampai sebulan.
“Ya semoga nggak lama. Kasihan nantinya para nelayan. Setidaknya bisa jaga-jaga untuk persiapan Lebaran nanti,” terang Bashori.
Kasat Polairud Polresta Pasuruan, AKP Erni Sugihastuti merespon bahwa hingga saat ini pihaknya masih belum mendapatkan edaran larangan melaut bagi nelayan terkait cuaca ekstrim.
Namun, pihaknya tetap memberikan imbauan kepada para nelayan, untuk tetap mengutamakan keselamatan jiwa ketika melaut.
Salah satunya dengan membawa peralatan keselamatan saat menangkap ikan.
Erni menambahkan, gelombang laut saat ini merupakan kategori sedang.
Dengan ketinggian ombak antara 1,25 sampai dengan 2,50 meter.
Sedangkan kecepatan angin dari arah Barat-Barat Laut perairan Laut Jawa bagian timur maksimum 26 knots.
Dan untuk pasang laut terjadi antara jam 01.00 dini hari sampai mencapai puncak pasang kisaran jam 13.00 wib.
Setelah itu, yakni antara jam 14.00 hingga malam kondisi perairan laut surut.
“Kami beserta anggota terus melakukan sosialisasi tentang antisipasi keselamatan melaut saat cuaca ekstrim. Jika cuaca tidak memungkinkan sebaiknya ditunda dulu sampai cuaca aman. Selebihnya kami juga menghimbau para nelayan untuk membawa peralatan keselamatan, seperti pelampung dan lain sebagainya,” terang AKP Erni Sugihasti. (ube/one)
Editor : Muhammad Fahmi