PASURUAN, Radar Bromo - Pertapaan Indrokilo berada di Dusun Talunongko, Desa Dayurejo, Kecamatan Prigen.
Dari Dusun Talunongko, lokasi pertapaan bisa ditempuh dengan jalan kaki, melewati medan menanjak. Ada yang jalan biasa, ada juga yang jalan paving.
Pengunjung harus menempuk jarak sekitar 4 kilometer dari perkampungan terakhir warga di Dusun Talunongko.
Baca Juga: Cerita Pertapaan Indrokilo, Peninggalan Majapahit di Lereng Ringgit
Karena menanjak, biasanya perjalanan membutuhkan waktu sekitar 6 jam. Sementara perjalanan turun bisa lebih cepat. Sekitar 4-5 jam.
Selain medan yang sulit atau menanjak, hawa di pertapaan Indrokilo juga sangat dingin. Terutama saat malam hari.
Sebab, berada di lereng Gunung Ringgit dengan ketinggian 1.424 meter dari atas permukaan air laut (dpl).
Baca Juga: Mau Ritual di Pertapaan Indrokilo Prigen, Warga Malang Meninggal
Pada pagi sampai siang, suhu di sana bisa mencapai 21-25 derajat Celsius. Sementara malam hari lebih dingin, mencapai 15-19 derajat Celsius.
Di Indrokilo sendiri terdapat beberapa candi. Antara lain, Satrio Manggung, Eyang Kabul, Mintorogo, Celeng Srenggi, Mundi Sari, Panji Saputra, Dewi Suprobowati, dan Candi Laras.
Di sana juga terdapat banyak arca. Termasuk petilasan Batu Kursi yang konon merupakan tempat presiden pertama RI Soerkano bertapa. Serta ada juga Gua Gambir.
Tempat ini berada di lahan milik Perhutani. Sementara pengawasannya merupakan kewenangan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) XI Jatim.
Tempat ini pun selalu ramai oleh pengunjung yang akan bertapa. Sehari bisa belasan, seminggu bisa puluhan dan dalam sebulan bisa sampai ratusan orang.
Sayangnya, tidak ada pos perizinan dan pemeriksaan di tempat ini seperti layaknya tempat lain yang banyak dikunjungi warga.
“Seharusnya ada pos. Minimal untuk skrining pengunjung. Jadi kalau ada pengunjung yang sakit atau kondisinya tidak fit, tidak diperbolehkan naik. Sebab, tiap harinya banyak pengunjung atau petapa naik dan turun,” terang Rasid, 40, warga Talunongko yang juga ketua Pokdarwis Panji Laras, Desa Dayurejo, Kecamatan Prigen.
Terpisah, koordinator juru pelihara (jupel) dari BPK XI Jatim wilayah Pasuruan Astono membenarkan bahwa pos izin atau pemeriksaan selama ini memang tidak ada.
Termasuk pula tidak ada tarif masuk bagi pengunjung atau petapa alias gratis.
Menurutnya, dulu sempat ada jupel di sana. Namun, sudah tua dan pensiun. Jupel ini pun digantikan jupel lain.
Sayangnya, hal itu tidak bertahan lama. Sebab, jupel pengganti lantas mengundurkan diri.
Karena itu, saat ini jupel di Pertapaan Indrokilo memang masih kosong. Pihaknya sedang dalam proses mengusulkan jupel pengganti.
Astono pun berjanji akan membahas perlunya keberadaan pos izin di pertapaan Indrokilo.
“Jika memang diperlukan adanya pos untuk izin sekaligus pemeriksaan bagi pengunjung yang akan naik ke Indrokilo, akan kami sampaikan ke kantor BPK XI. Sekaligus juga koordinasi dengan pihak desa, pokdarwis, serta Perhutani,” jelasnya. (zal/hn)
Editor : Achmad Syaifudin