BEJI, Radar Bromo - Bencana banjir masih melanda di kawasan Barat Kabupaten Pasuruan.
Banjir yang melanda tiga kecamatan di Kabupaten Pasuruan butuh waktu lama untuk surut.
Curah hujan yang tinggi memperparah genangan air yang meluber dari sungai. Dampaknya makin meluas.
Ribuan rumah warga di Kecamatan Beji, Bangil dan Gempol terendam. Data terbaru dari BPBD setempat menunjukkan jumlah rumah warga yang terdampak mencapai 3.527.
Kejadian paling parah di Desa Kedungringin, Kecamatan Beji. Dari delapan dusun yang sekarang terimbas banjir, total sebanyak 1.835 rumah warga yang terendam.
Ketinggian air bisa mencapai 70 hingga 80 sentimeter. Yang paling parah di Dusun Balongrejo dan Ngampel. Sebab perbatasan dua dusun itu memang dilintasi Sungai Wrati.
Kondisi yang semakin parah membuat warga Dusun Balungrejo benar-benar terisolasi. Bayangkan saja, akses masuk dusun itu lumpuh total.
Yang terjadi saat ini tidak lebih baik ketimbang sehari sebelumnya. Dimana warga masih bisa menerjang genangan air di jalan kendati sebagian motor mereka akhirnya mogok.
Pantauan Jawa Pos Radar Bromo kemarin (6/2), tingginya genangan air melumpuhkan akses. Baik dari arah selatan di Bahrowo maupun dari arah utara di Ngampel.
Warga sama sekali tidak bisa menggunakan kendaraan roda dua untuk memaksa melintas.
Alhasil, mereka yang bekerja di luar desa, terpaksa harus berjalan lebih dari 1,5 kilometer dari perkampungan ke jalan pantura. Kondisi itu jelas menyulitkan aktivitas warga.
Tidak heran jika sebagian warga setempat harus mengungsi ke rumah kerabat di luar desa.
Seperti dilakukan Chandra, 27. Warga RT 29 RW 9 Dusun Balungrejo itu memboyong istri dan dua anaknya untuk tinggal di rumah orang tuanya.
Menurut Chandra, genangan air yang masuk ke rumahnya memang tidak begitu tinggi.
”Tapi daripada kesulitan akses keluar masuk desa, lebih baik tinggal di rumah orang tua untuk sementara waktu,” bebernya.
Tidak hanya itu, beberapa siswa di kawasan tersebut juga tetap diliburkan. Seperti di SDN Kedungringin 1 dan SDN Kedungringin 4 yang sudah dua hari terakhir meniadakan aktivitas belajar mengajar.
Sementara bantuan makanan terus didistribusikan. Pemerintah memasok kebutuhan makanan untuk warga yang terdampak.
Wakil Ketua PMI Kabupaten Pasuruan Misbach Zunib mengaku melibatkan sekitar 40 orang untuk memasak di dapur umum.
Pihaknya melibatkan seluruh petugas PMI Kabupaten Pasuruan dan relawan dari PMR SMKN 1 Bangil, MAN 1 Pasuruan, SMAN 1 Bangil dan lainnya.
”Dapur umum dibangun di halaman Kantor PMI. Dalam sehari, para relawan memasak hingga dua kali untuk mensupport pemerintah membantu warga terdampak,” bebernya.
Ketua Iswara (Ikatan Istri Wakil Rakyat) Kabupaten Pasuruan Helmi Sudiono Fauzan juga turun membantu warga terdampak. Tak hanya membagikan paket sembako, pihaknya juga memberikan bantuan susu dan snack bagi anak-anak.
”Tentunya kami prihatin, terutama bagi anak-anak yang juga terdampak kejadian banjir ini sehingga mereka terpaksa tidak bisa belajar di sekolah,” ungkap dia..
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Pasuruan Sugeng Hariyadi mengatakan, dari beberapa desa yang terdampak, banjir yang melanda Desa Kedungringin memang paling parah.
”Apalagi hujan di wilayah atas sangat deras, dan air laut sedang pasang,” kata Sugeng.
Selain itu, tiga dusun di Desa Kedungboto, Kecamatan Beji juga terendam. Yakni Dusun Gedang Kluthuk, Karanglo dan Dusun Kedungboto. Hanya saja, jumlah rumah penduduk yang terdampak tak begitu banyak bila di bandingkan dengan pemukiman warga di Desa Kedungringin.
”Ketinggian air pun juga tak setinggi di Kedungringin. Rata-rata antara 40 hingga 50 sentimeter,” bebernya.
Ia membenarkan jika banjir yang menggenangi pemukiman warga itu berasal dari luapan DAS (daerah aliran sungai) Wrati.
”Karena memang intensitas hujan yang terjadi dalam waktu yang cukup lama ditambah air laut pasang, sehingga aliran sungai Wrati tak bisa menampung air hingga akhirnya meluap,” ujarnya.
Sedangkan di Bangil, setidaknya ada empat desa terdampak. Yakni Desa Satak, Bandaran, Tambakan dan Kalirejo. Totalnya ada 1.221 rumah warga yang terendam. Kondisi itu terjadi akibat luapan daerah aliran sungai Kedunglarangan.
Di Gempol, rumah yang terdampak banjir lebih sedikit. Sebab hanya melanda Dusun Ngasem dan Tanjung dengan ketinggian antara 30 hingga 50 sentimeter. Rumah yang terendam berjumlah 230 unit.
”Kalau di Gempol dan Bangil karena luapan sungai Kedunglarangan ketika limpahan air dari wilayah atas beradu dengan air laut yang dalam kondisi pasang,” pungkasnya.
Banjir di Kabupaten Pasuruan sejatinya tidak hanya menimpa wilayah Barat. Di awal musim hujan ini, banjir juga pernah melanda wilayah timur di Winongan, tepatnya di Desa Prodo.
Banjir yang terjadi akhir Februari itu disebabkan terjangan banjir bandang di wilayah Lumbang. (tom/fun)
Banjir di Kabupaten Pasuruan
Kecamatan Beji
Desa Beji, Beji, Kedungringin, Kedungboto
Warga Terdampak 1.835 KK
Kecamatan Bangil
Desa Satak, Bandaran, Tambakan dan Kalirejo
Warga Terdampak 1.221 KK
Kecamatan Gempol
Desa Gempol
Warga Terdampak 230 KK