TULUNGAGUNG, Radar Bromo - Tidak ada firasat sama sekali saat Sauril Irfani menyiapkan perkakas di rumahnya untuk melaut.
Pemuda 19 tahun ini lantas berangkat bersama enam rekannya sekitar pukul 06.00, Senin (18/12). Mereka mencari ikan dengan menyisir Teluk Popoh.
Selama di perahu, Sauril berada tepat di tengah. Melihat adanya tanda-tanda kerumunan ikan dorang putih di pinggiran, membuat sekumpulan nelayan tersebut memburu ikan ke wilayah pinggiran.
“Pas ada dorang putih itu, ya mencari ikan lagi ke wilayah pinggiran,” jelasnya, Rabu (20/12).
Saat mencari ikan di pinggiran itulah, tiba-tiba ombak datang dari tengah laut. Ombak pecahan setinggi 3 meter itu pun menerjang bagian kiri perahu.
Perahu pun langsung terbalik. “Tiba-tiba ada ombak pecahan tiga kali dari tengah setinggi 3 meter,” ucapnya.
Seluruh nelayan yang berada di perahu pun terhempas. Ada yang terbalik berada di bawah perahu dan ada yang terbawa ombak.
Saat itu, Sauril berada di bawah perahu yang terbalik akibat terjangan ombak. Dia pun sempat merasakan terjangan ombak sekitar lima kali. Kakinya pun terlilit jaring.
Dia nyaris tak bisa bernapas. Sebab, terperangkap di perahu yang terbalik.
“Jaring yang di kaki kiri itu mudah dilepas, tapi yang sebelah kanan terjerat dengan celana. Akhirnya saya memutuskan untuk melepas celana agar terlepas dari jaring. Kurang lebih sekitar 2 menit di bawah perahu,” paparnya.
Begitu terlepas dari jaring, dia berenang ke atas untuk menyambung napas. Kemudian, mengikuti ombak yang menerjang tubuhnya hingga akhirnya selamat sampai di daratan.
“Mengikuti gelombang ombak sampai ke daratan. Ada ombak, saya menyelam ke bawah. Ketika tidak ada ombak, saya ke atas lagi. Sempat terseret ombak ke tengah hingga akhirnya sampai ke daratan,” pungkasnya. (c1/rka/hn)
Editor : Jawanto Arifin