PASURUAN, Radar Bromo - Ada yang luput dari penindakan pelanggaran lalu lintas di tengah gencarnya penerapan ETLE di Kota Pasuruan.
Becak-becak motor kembali marak beroperasi. Wilayah operasional mereka juga terbilang cukup aman. Karena lepas dari pantauan kamera pengawas dan aparat kepolisian.
Adanya rambu-rambu larangan becak motor masuk kota, seolah angin lalu. Tukang becak motor masih bebas berseliweran. Rata-rata mereka beroperasi di kawasan wisata religi.
Di hari biasa, memang hanya terlihat satu dua yang melintas. Tetapi, jumlahnya semakin tak terhitung di momen-momen tertentu.
Seperti malam Jumat, ketika jumlah peziarah ke makam Kiai Hamid meningkat. Juga di akhir pekan saat pengunjung kawasan Madinah van Java membeludak.
Keberadaan becak motor membikin sebagian pengguna jalan resah. Salah satunya, karena tidak sedikit yang melawan arus lalu lintas.
”Terutama dari arah timur alun-alun yang sekarang sudah tidak boleh langsung ke arah utara. Kadang-kadang ada becak motor yang langsung nyeludur saja,” ungkap Romli, seorang pengendara motor.
Bukan hanya dikeluhkan pengguna jalan. Keberadaan becak motor juga membuat resah para tukang becak wisata di kawasan alun-alun.
Karena bagaimanapun, mereka merasa punya hak untuk beroperasi di kawasan wisata religi.
”Kalau becak motor dibiarkan seolah kurang adil bagi kami. Sedangkan ini kan wilayah wisata religi,” kata seorang pengayuh becak wisata yang enggan disebutkan namanya.
Kasat Lantas Polres Pasuruan Kota Iptu Agus Prasetyo belum membeberkan rencana penindakan yang akan dilakukan. Dia hanya menegaskan akan menindaklanjuti kondisi itu.
”Siap akan ditindaklanjuti,” jawabnya singkat saat dikonfirmasi kemarin (27/11). (tom/hn)
Editor : Jawanto Arifin