Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Evakuasi Pesawat Super Tucano Terhalang Kabut dan Mendung

Iwan Andrik • Senin, 20 November 2023 | 14:09 WIB
SUDAH DIINVESTIGASI: Personel TNI AU di lokasi pesawat Super Tucano yang jatuh di Desa Keduwung, Kecamatan Puspo, Kabupaten Pasuruan.
SUDAH DIINVESTIGASI: Personel TNI AU di lokasi pesawat Super Tucano yang jatuh di Desa Keduwung, Kecamatan Puspo, Kabupaten Pasuruan.

PASURUAN, Radar Bromo - Proses evakuasi bangkai pesawat tempur Super Tucano yang jatuh di Puspo, Kabupaten Pasuruan, terus dilakukan.

Memasuki hari keempat, TNI AU juga menurunkan tim tanggap darurat, sekaligus investigasi kecelakaan.

Sayangnya, Minggu (19/11), evakuasi lanjutan bangkai pesawat tak bisa dilakukan. Sebab, cuaca di lokasi masih buruk. Mendung dan kabut menjadi penghalang utama.

Sama seperti hari sebelumnya, persiapan evakuasi dilakukan dengan mengerahkan personel dari internal TNI AU.

Sementara lintas instansi membantu proses pengamanan. Seperti, TNI AD, Polri, dan BPBD Kabupaten Pasuruan.

Sumber Jawa Pos Radar Bromo menyebutkan, evakuasi sejatinya dilakukan sejak Jumat (17/11) atau sehari setelah dua pesawat Super Tucano jatuh. Evakuasi di hari pertama itu difokuskan untuk mencari data recorder pesawat.

Lalu di hari kedua sampai Minggu, personel fokus mengumpulkan bagian penting bangkai pesawat untuk dibawa ke Lanud Abdulrahman Saleh di Pakis, Kabupaten Malang.

“Sabtu (18/11) dan kemarin, tim dari Markas Besar (Mabes) TNI AU sudah ke lokasi. Katanya, puing-puing yang penting sudah klir,” kata sumber Jawa Pos Radar Bromo.

Memang dalam keterangan pers rilis Sabtu (18/11), Kadispen TNI AU Marsma Agung Sasongkojati menyebutkan, alat video data recorder dan network centric data cartridge (VDR/NCDC) di dua pesawat sudah ditemukan.

Puing pesawat yang mengandung bahan peledak seperti kursi pelontar, juga sudah diamankan. Sehingga, proses evakuasi di lapangan kini melanjut ke bagian kecil lainnya.

Selama proses evakuasi, dua posko terus siaga. Yaitu, posko di Penanjakan, Desa Wonokitri, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan dan di Balai Dusun Keduwung, Desa Keduwung, Kecamatan Puspo, Kabupaten Pasuruan.

Begitu juga di wilayah pesawat jatuh di Desa Wonorejo, Kecamatan Lumbang dan Desa Keduwung, Kecamatan Puspo. Koramil dan Polsek di dua wilayah ini masih stand by.

Danramil Lumbang Kapten Sutiono menjelaskan, semenjak pesawat jatuh, pihaknya memang diminta mengamankan lokasi agar steril dari warga.

Bersama jajaran polsek, lokasi yang jaraknya cukup jauh tersebut dijaga agar tak sembarangan orang bisa masuk. Terkecuali petani yang ingin menggarap lahan sawahnya.

“Selama evakuasi beberapa hari ini, kendala yang dihadapi rekan-rekan dari TNI AU memang berat. Untuk menuju lokasi yang medannya terjal, kabut juga sering turun. Sementara bagian pesawat harus dipotong,” beber Sutiono.

Hal yang sama diungkapkan Danramil Puspo Kapten Budi. Kata dia, jajarannya bersama Polsek Puspo masih mengamankan lokasi sampai kemarin.

Hampir setiap hari jajarannya ikut mendampingi TNI AU untuk turun menuju lokasi.

TERJAL: Personel Koramil Lumbang di Desa Wonorejo, Kecamatan Lumbang, Kabupaten Pasururan, tempat pesawat Super Tucano terjatuh.
TERJAL: Personel Koramil Lumbang di Desa Wonorejo, Kecamatan Lumbang, Kabupaten Pasururan, tempat pesawat Super Tucano terjatuh.

“Lokasi pesawat jatuh hanya bisa ditempuh dengan jalan kaki. Memang bisa menggunakan motor, tapi risikonya besar karena bukit dan jurang. Banyak jalan yang hanya bisa dilintasi satu ban motor saja dan itu licin,” kata Budi.

Pernyataan serupa disampaikan Pj Danramil Tosari Letda Inf Nurkholiq. Wilayahnya ketempatan posko untuk evakuasi pesawat yang jatuh di Desa Wonorejo, Kecamatan Lumbang. Posko ini didirikan di Penanjakan atau sekitar masjid BSI.

Posko di Penanjakan ini lebih efektif didirikan karena akses untuk menuju lokasi lebih mudah ketimbang lewat Wonorejo, Kecamatan Lumbang. Sehingga, untuk membawa puing pesawat akan lebih mudah.

"Kabut dan mendung jadi kendala utama. Kalau sudah berkabut, memotong bagian pesawat jadi lebih sulit. Apalagi kalau mendung turun, akan gelap dan sulit melanjutkan,” beber Nurkholiq.

Selama proses evakuasi, jajaran koramil tak hanya membantu personel TNI AU. Jajaran koramil dam polsek selama ini juga ikut memberi pasokan makanan.

“Kami bersama polsek men-support petugas di lokasi,” beber Danramil Lumbang Kapten Sutiono.

Selama proses evakuasi berlangsung, memang ada masyarakat yang ingin melihat. Tapi tidak sebanyak saat pesawat jatuh di hari pertama.

“Jika adapun yang ke lokasi, mereka adalah petani yang sedang bekerja di ladang dan tidak melihat dari dekat,” beber Sutiono. (one/hn)

Editor : Jawanto Arifin
#pesawat jatuh pasuruan #Super Tucano #pesawat jatuh #tni au