Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Wow, Butuh Satu Ton Cat untuk Memoles Menara Air Ikonik, Selama Pengerjaan Diawasi Tim Cagar Budaya

Fandi Armanto • Senin, 6 November 2023 | 15:25 WIB
TINGGI: Pekerja yang memoles menara air di kawaan Alun-alun Pasuruan. Bangunan cagar budaya ini nantinya juga akan dijadikan museum mini untuk menunjang tourist information centre.
TINGGI: Pekerja yang memoles menara air di kawaan Alun-alun Pasuruan. Bangunan cagar budaya ini nantinya juga akan dijadikan museum mini untuk menunjang tourist information centre.

PANGGUNGREJO, Radar Bromo - Anggaran Rp 600 juta digelontorkan untuk mempercantik menara air ikonik di Alun-Alun Pasuruan.

Menara air yang kerap disebut petledeng itu akan disulap menjadi destinasi baru. Menara juga akan diberi lampu kelap-kelip, sama seperti Alun-Alun Pasuruan.

Untuk menyulapnya menjadi cantik, pekerjaan yang dilakukan juga terbilang tak mudah. Bahkan untuk memoles saja menara berusia satu abad lebih tersebut, cat yang diperlukan lebih dari satu ton. Pengecatannya juga harus dilakukan oleh tukang-tukang berpengalaman.

“Kami memperhatikan keselamatan kerja selama pengerjaan. Sebab, menara ini tingginya lebih dari 50 meter,” terang pelaksana pengawas proyek Iwan Wahyudi.

Tukang bagian yang mengecat pun harus hati-hati dan memakai alat pengaman walau hanya mengecat saja. Sebab dengan ketinggian 50 meter, embusan angin di atas cukup besar.

Belum lagi scaffolding yang digunakan. Harus diukur dengan dan dipastikan kuat sebelum digunakan.

“Minimal pekerja yang ngecat, harus sudah sarapan dulu. Lalu berdoa sebelum bekerja,” kata Iwan.

Iwan bilang, menara ini memang akan dicat warna putih. Sebab ada rencana akan digunakan untuk lampu hias yang memantul ke menara. Sehingga cat yang dipoles ke menara, harus benar-benar rata.

Dari beberapa pekerjaan yang dilakukan, Iwan mengatakan, paling berat adalah tahap pertama. Yakni menguras air di dalam menara. Perlu waktu satu pekan untuk menyedot sisa air di dalam menara.

“Itu sungguh lelah dan harus ekstra hati-hati. Apalagi di dalam masih ada pipa peninggalan Belanda yang tidak boleh kami lepas,” kata Iwan.

Selama pengerjaan, lanjut Iwan, rekanan juga tak hanya diawasi konsultan maupun Dispora.

“Selama kami menggarap, hampir tiap hari tim cagar budaya memantau ke lokasi. Kami di wanti-wanti agar tidak mengubah bentuk asli karena menara ini masuk bagunan cagar budaya,” beber Iwan.

Menara air ini memang menjadi alah satu upaya untuk memelihara bangunan cagar budaya di Kota Pasuruan. Sebelumnya Sekretaris Dinas Pemuda dan Olahraga (Disora) Akung Novayanto mengatakan, menara air dipoles agar tampak lebih indah.

Kemudian nantinya juga akan dipadukan dengan lampu-lampu sorot. Sehingga selaras dengan wajah kawasan wisata religi.

Dispora juga punya rencana kawasan itu jadi salah satu daya tarik wisatawan yang datang. Nantinya tourist information centre (TIC) akan ditunjang dengan semacam museum mini yang ada di bekas menara air itu.

Proyek ini ditargetkan harus tuntas sebelum ganti tahun. (fun)

Editor : Jawanto Arifin
#kota pasuruan #Menara Air #bangunan cagar budaya