PANGGUNGREJO, Radar Bromo-Efek domino imbas kemarau panjang belum juga reda. Sektor pertanian hortikultura pun terdampak. Tak sedikit petani yang mengalami gagal panen.
Kapasitas produksi mereka akhirnya menurun drastis. Dampak tersebut memengaruhi stabilitas harga jual ke tingkat konsumen. Salah satunya, komoditas cabai rawit.
Meski sempat stabil, harga salah satu kebutuhan bumbu dapur itu kembali meroket dalam beberapa hari terakhir.
Kabid Perdagangan Disperindag Kota Pasuruan Rizki Pramita mengatakan, kenaikan harga cabai rawit tidak lepas dari berkurangnya komoditas.
Dalam hukum pasar, ketersediaan sangat mempengaruhi harga. Minimnya pasokan tersebut ditengarai akibat musim kemarau panjang yang dipicu fenomena El Nino. ”Banyak petani yang gagal panen saat kemarau panjang, sehingga pengaruhnya terhadap kenaikan harga,” jelasnya.
Harga cabai rawit memang makin pedas. Saat ini, bahkan sudah menembus Rp 80 ribu per kilogram. Kenaikan harga yang berlangsung secara kontinyu cukup memberatkan.
Heni Lestari, 40, salah satu ibu rumah tangga mengeluhkan jika harga cabai terus naik. Sebab, pengeluaran untuk kebutuhan sehari-harinya meningkat. Sementara penghasilan keluarganya tidak ikut bertambah.
“Kebutuhan rumah tangga kan harus dibagi-bagi. Kalau cabai lagi mahal, ya mau nggak mau ngurangi belanja,” katanya.
Tidak hanya dikeluhkan konsumen. Kondisi tersebut juga dirasakan berat bagi beberapa pedagang. Prihatin, 42, salah satu pedagang di Pasar Kebonagung mengatakan, kenaikan harga cabai rawit memang cukup mendadak dalam sepekan terakhir. ”Meskipun naiknya dalam dua sampai tiga hari, tapi berangsur cepat,” katanya.
Soalnya harga pekan lalu masih kisaran Rp 40 ribu per kilogram. Namun, saat ini harganya meningkat hingga dua kali lipat. Ia pun enggan nyetok persediaan terlampau banyak. Karena jika harga komoditas sudah naik, konsumen pun berpikir dua kali untuk membeli dengan jumlah seperti biasa.
”Banyak yang ngurangi jumlah pembelian, jadi saya juga nyetoknya sedikit-sedikit yang penting ada,” katanya. (tom/mie)
Editor : Ronald Fernando