KEDOPOK, Radar Bromo - Beberapa hari ini, suhu udara di Kota Probolinggo panas menyengat. Hal ini terjadi karena suhu udara yang meningkat akibat El Nino.
Kalaksa BPBD Kota Probolinggo Sugito Prasetyo menjelaskan, suhu udara saat ini lebih tinggi dari sebelumnya. Berkisar 32 sampai 37 derajat Selcius.
“Peningkatan suhu ini dampak dari El Nino, yaitu memanasnya suhu muka laut di atas kondisi normal yang terjadi di Samudra Pasifik bagian tengah. Fenomena ini meningkatkan potensi awan yang mengurangi curah hujan di Indonesia,” katanya.
Kondisi ini diperkirakan terjadi hingga akhir Oktober dan merata di seluruh Jawa Timur. Bahkan, rata-rata suhu udara di Jawa Timur antara 36 sampai 38 derajat Selcius.
"Ada kenaikan suhu udara dibanding bulan sebelumnya. Pada September hanya berkisar 28 sampai 32 derajat. Dan waktu itu juga ada angin yang bertiup kencang," katanya.
Gito–panggilannya–meminta masyarakat agar lebih berhati-hati selama Oktober. Karena suhu udara yang meningkat berpotensi menyebabkan kebakaran. Sebaiknya masyarakat tidak meninggalkan rumah dalam kondisi listrik menyala.
Suwarto, staf BMKG Stasiun Geofisika Pasuruan menjelaskan hal serupa. Sebenarnya, menurutnya, peningkatan suhu udara terjadi dari tahun ke tahun. Penyebabnya ada beberapa hal.
Di antaranya, tutupan awan minim atau tidak ada penghalang sinar matahari ke bumi. Kemudian, posisi matahari saat ini di ekuator dan sedang bergerak menuju titik kulminasi utama Jawa Timur.
Suhu udara pun meningkat di Jawa Timur. Daerah dengan suhu udara tertinggi di Jawa Timur tercatat di Lamongan dan Bojonegoro. Mencapai maksimum 36,4 derajat Selcius.
“Faktor lainnya karena saat ini masih musim kemarau. Ada juga pengaruh El Nino. Diprediksi, cuaca seperti ini akan berlangsung sampai akhir Oktober atau sampai awal musim hujan, sekitar November,” jelasnya.
Dia pun mengimbau masyarakat senantiasa menjaga stamina tubuh. Juga memperhatikan kecukupan cairan tubuh, terutama bagi yang beraktivitas di luar ruangan pada siang hari.
“Supaya tidak dehidrasi, kelelahan, dan dampak buruk lainnya,” kata pria asal Klaten, Jawa Tengah, ini. (riz/zal/hn)
Editor : Jawanto Arifin