Kemarin (24/5), sejumlah perwakilan pelajar SMP negeri dan swasta se-Kota Pasuruan diajak berkeliling kota. Mereka mengunjungi satu per satu cagar budaya yang cukup ikonik.
Kunjungan diawali di kawasan Pelabuhan Pasuruan. Lalu berlanjut ke Kelenteng Tjoe Tik Kiong, Markas Yon Zipur 10, P3GI, dan berakhir di menara air atau water toren.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Pasuruan Lucky Danardono menyampaikan, pembelajaran luar kelas itu memang baru diawali kali ini. Ia menginginkan agar para pelajar lebih mengenal objek-objek cagar budaya yang ada. Apalagi, sejauh ini sudah ada 16 objek cagar budaya yang sudah ditetapkan.
“Kami menginginkan agar anak-anak kita lebih mengenal betapa panjang dan pentingnya sejarah perjalanan kota ini,” ungkap Lucky.
Para peserta pun tampak antusias. Terutama ketika mendengar cerita sejarah cagar budaya yang dikunjungi kemarin. Chelsea Emerahlia Putri Herdian, pelajar SMPN 2 Pasuruan mengaku, mendapat banyak wawasan baru terhadap bangunan-bangunan kuno tersebut. “Excited sekali. Terutama di Kelenteng, vibes-nya tenang,” beber Chelsea.
Sementara M. Sholehudin, pelajar SMPN 1 Pasuruan lebih tertarik dengan water toren. Selama ini, dia memang sudah akrab dengan bangunan menjulang di kawasan alun-alun tersebut. Tetapi, kapan dibangun, apa fungsinya, dan betapa penting sejarahnya bagi distribusi air di masa lampau, sama sekali menjadi hal baru baginya.
“Sering main ke sini, tetapi tidak tahu sejarahnya. Tapi, setelah berkunjung bisa tahu lebih jauh. Ternyata sejarahnya cukup panjang,” bebernya.
Ketua Dewan Kebudayaan Kota Pasuruan Aditya Rachman mengapresiasi langkah pemerintah yang mulai mengenalkan cagar budaya ke pelajar. “Ini momentum baik untuk memberikan wawasan anak-anak muda dalam mengenal lebih dalam terhadap cagar budaya,” ujarnya.
Ke depannya ia berharap masyarakat juga semakin memiliki kepedulian terhadap pelestarian cagar budaya. “Karena cagar budaya ini menyimpan sejarah bagaimana Pasuruan ada dan berdiri,” harapnya. (tom/mie) Editor : Jawanto Arifin