Sebagian besar pengunjung yang datang mengaku penasaran dengan megahnya Payung Madinah. Bahkan tidak jarang mereka rela datang lebih awal demi menyaksikan proses mekarnya enam Payung Madinah. Ada juga yang mengabadikan momen ketika Payung Madinah mengembang.
Salah satunya adalah Isnaini, 36, yang tiba selepas kumandang azan ashar. Warga Sukorejo, Kabupaten Pasuruan itu datang dengan rombongan ibu-ibu di kampungnya. Selain berziarah ke makam K.H. Abdul Hamid, mereka juga tertarik dengan Payung Madinah. Karena selama ini hanya bisa melihatnya di media.
”Baru kali ini bisa melihat langsung. Dan beruntung pas enam-enamnya mekar semua,” katanya.
Tidak hanya menjadi kebanggaan warga Pasuruan. Pengunjung asal Probolinggo seperti Ferdiana juga mengaku kagum dengan nuansa ala Madinah ada di Kota Pasuruan. Dia pun menghabiskan waktu menunggu berbuka puasa di bawah Payung Madinah. ”Suasananya seperti di depan masjid Nabawi,” katanya.
Dia mengaku, dengan berkunjung ke Payung Madinah setidaknya bisa mengobati keinginannya untuk menjejakkan kaki di kota nabi. Syukur-syukur suatu saat dia mendapat rezeki untuk bisa melihat bentuk asli dari Payung Madinah di Arab Saudi.
Payung Madinah sendiri, beberapa kali tak bisa mengembang sempurna. Memang tidak semua. Kamis (6/4) sekitar pukul 19.00 misalnya, membran salah satu Payung Madinah tidak mengembang sempurna. Membran itu bahkan robek setelah kerangkanya tersangkut tembok masjid. Namun, segera diperbaiki dan normal lagi. (tom/hn) Editor : Jawanto Arifin