Mereka mendatangi beberapa kecamatan penghasil durian. Di antaranya, Kecamatan Lumbang, Pasrepan, Puspo, Tutur, Purwodadi, dan Purwosari. Penjualan durian tidak hanya diam di warung pinggir jalan dan pasar wisata. Ada juga durian yang dijual di rumah-rumah pemilik kebun.
Di Puspo, misalnya. Ada penjual durian rumahan seperti itu. Namanya Saiful Hadi. Durian yang dijual asli dari kebun durian di tanah Puspo. Ciri khasnya durian Puspo berbiji kecil. Rasanya manis legit.
”Mulai akhir tahun (2022) lalu panen," ungkapnya.
Menurut Saiful, durian yang dijual tidak hanya dari kebun sendiri, tetapi juga kebun para tetangganya. Sebab, durian hasil kebunnya sendiri tidak cukup untuk memenuhi permintaan konsumennya.
"Puluhan duren ludes setiap hari. Punya tetangga juga saya beli," terangnya.
Pembeli durian datang dari berbagai kota. Mereka tahu dari mulut ke mulut tentang pedagang durian rumahan ala Saiful. Para wisatawan itu datang dan langsung memilih. Lalu, membelah durian sambil duduk di tikar. Atau, berjongkok ramai-ramai. Satu butir, dua butir dibuka. Tak terasa sudah banyak yang dibuka dan dimakan.
Siti Anisa, seorang pembeli, mengaku dalam liburan ini dia dan keluarga sengaja mencari durian. Ibaratnya, keluarga wisata kuliner durian. "Alhamdulillah. Memang enak duriannya," ungkapnya.
Yang menyenangkan pembeli, Saiful memasang garansi. Kalau durian tidak enak, pasti digantinya dengan buah baru. Langsung bisa dikembalikan dan diberi durian yang enak.
"Pasti saya ganti yang baru," ungkapnya.
Zaki, pembeli lain, mengatakan mencari durian sampai ke Puspo karena anaknya yang bontot sangat suka durian. Jadi, setiap berwisata ke kawasan Gunung Bromo, keluarganya selalu mampir untuk makan durian.
”Sudah langganan. Ini anak saya suka sekali,” ungkapnya. (sid/far) Editor : Jawanto Arifin