Santoko Purwono, petani asal Desa/Kecamatan Tosari mengatakan, sampai sekarang kubisnya masih tak laku. Bukannya tak dijual. Tapi memang sengaja dibiarkan di ladang. Sebab, harga jualnya tak kunjung naik. "Saya pasrah. Saya biarkan saja di ladang," katanya.
Pada musim tanam tahun ini, dia menanam kubis di lahan seperempat hektare. Kubisnya pun bagus-bagus. Namun, karena harganya rendah, kubis itu pun tak dipanen.
"Ya biarkan mengering saja. Daripada dijual nanti tambah minus," tuturnya.
Hal senada dikatakan Wantoro, petani asal Desa Podokoyo. Menurutnya, mulai tanam hingga siap panen dia sudah menghabiskan uang kurang lebih Rp 9 juta. Dan kini, tanaman yang diharapkan bisa mendapatkan pundi-pundi uang itu tak laku dijual.
"Mentok nanti ya kalau memang ndak laku akan dijadikan pupuk. Karena kan tak biarin di lahan," katanya.
Menurutnya, lokasi lahannya jauh dari jalan raya. Sehingga harga kubisnya hanya ditawar Rp 200 per kilogram. Kalau lokasinya dekat jalan, bisa naik menjadi Rp 500 per kilogram.
“Kalau saya paksakan dijual tak akan mendapatkan apa-apa. Sebab, ongkos angkut sekitar Rp 500 per kilogram,” tuturnya.
Parahnya, menurut Wantoro, kubis tak bisa diapa-apakan. Mentok dijadikan olahan weci. Untuk olahan lain tak bisa.
"Kalau kentang kan bisa jadi keripik. Kalau kubis ya weci. Tapi masak semuanya mau dijadikan weci," katanya.
Sementara itu, Ummu, kepala Bidang Produksi Tanam Pangan dan Hortikultura di Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Pasuruan mengatakan, turunnya harga kubis belakangan ini adalah hukum pasar. Yakni, ketika barang banyak, maka permintaan turun.
"Kalau terkait harga komoditas itu sudah mekanisme pasar. Sebagaimana hukum ekonomi kalau barang banyak pasti harga turun," terangnya.
Menurutnya, dari sisi kualitas produksi kubis di daerahnya baik. Dan para petani Tosari tak perlu lagi belajar terkait bagaimana cara produksi kubis. "Secara kualitas baik ya," ujarnya singkat. (sid/hn) Editor : Jawanto Arifin