Saiful Anam, nelayan asal Gadingrejo sudah merasakan betul imbas kenaikan harga BBM bersubsidi meski baru berlangsung sehari. Sebab, solar tetap dibutuhkan setiap hari. Perahu dengan kapasitas tiga penumpang yang biasanya dipakainya melaut, bisa menghabiskan 10 hingga 20 liter solar per hari.
“Belum lagi selesai dengan masalah kesulitan mendapat solar. Seperti tanggal merah ini tidak bisa dilayani,” kata Saiful.
Bila sudah seperti itu, ia akhirnya terpaksa membeli solar eceran. Konsekuensinya jelas. Harganya pasti lebih mahal. Per liter sekarang sudah mencapai Rp 8 ribu. Tapi menurut Saiful, mau tak mau itu harus dilakukan. Demi tetap bisa melaut mencari ikan.
Nelayan seperti dirinya sebenarnya tidak mempersoalkan bila pemerintah menaikkan harga BBM bersubsidi. “Asalkan kebutuhannya bisa tetap terpenuhi, mudah didapat. Juga sebanding dengan pendapatan dari hasil penjualan ikan,” kata Saiful.
Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Pasuruan Iksan mengatakan, kenaikan harga BBM bersubsidi jelas dirasakan masyarakat nelayan. Betapa tidak, kebutuhan solar bagi nelayan cukup tinggi. Di Kota Pasuruan saja, ada kurang lebih 100 kapal berukuran sedang yang memerlukan solar.
Hampir setiap melaut kapal-kapal nelayan rata-rata membutuhkan 75 liter solar. Dengan naiknya solar subsidi dari Rp 5.150 menjadi Rp 6.800, otomatis biaya nelayan untuk bahan bakar saja membengkak. “Ditambah lagi sering terjadi kelangkaan solar yang mengakibatkan nelayan tidak bisa melaut,” ungkap Iksan.
Setidaknya, dengan adanya SPBN, kata Iksan, para nelayan bisa mendapat keleluasaan dalam memenuhi kebutuhan solar. Ia berharap, pemerintah punya perhatian terhadap nelayan. Meski beberapa waktu lalu, pemerintah kota menyatakan pembangunan SPBN baru menjadi rencana jangka panjang.
“Nasib nelayan sekarang sudah seperti disambar petir dan tenggelam ke lautan dalam. Sehingga kami harap pemerintah bisa memberikan solusi. Apalagi soal pembangunan SPBN itu sebenarnya sudah kami usulkan sejak 2015,” kata Iksan. (tom/fun) Editor : Jawanto Arifin