Pembukaan Hari Raya Karo di Brangkulon dilakukan di Pendapa Desa/Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan. Sabtu (13/8), warga berkumpul di halaman pendapa. Mereka memakai baju hitam dan jarik batik. Lengkap dengan udeng di kepala. Bukan hanya orang dewasa, anak-anak pun memakai pakaian serupa.
Sekitar pukul 10.00, rombongan manten penari sodoran dari desa se Kecamatan Tosari datang memakai pakaian serba putih. Mereka lantas meminta restu kepada leluhur. Setelah restu didapat, rombongan penari diarak hingga memasuki halaman pendapa.
Mereka kemudian menarikan tarian sodoran di pendapa. Dalam perayaan pembukaan Yadnya Karo, memang selalu ditampilkan tari sodoran. Tarian itu menceritakan asal usul terciptanya manusia. Setiap gerakan di dalamnya memiliki makna khusus.
Eko Warnoto, salah satu Dukun Pandita Hinggu Tengger Brangkulon mengatakan, sodoran hanya ditarikan saat perayaan pembukaan Yadnya Karo. Sebab, sodoran merupakan tarian sakral.
"Ada tiga hal terkait sodoran ini. Pertama harua ada sesajen, ditarikan saat Karo, dan ada mantranya. Jika tidak ada itu maka tidak boleh ditarikan," katanya.
Camat Tosari Edy Priyanto mengatakan, pembukaan perayaan Yadnya Karo tahun ini memang berbeda dengan dua tahun sebelumnya. Kini acara dilakukan di satu titik, karena pandemi Covid-19 mulai menurun.
"Dilakukan di pendapa Tosari. Dan tetap patuh protokol kesehatan," katanya.
Selama dua tahun menurutnya, perayaan pembukaan Yadnya Kato sebenarnya tetap dilakukan. Tetapi, urutan tarian sodoran dilakukan bergilir. Setelah menari warga langsung pulang. Begitu seterusnya hingga perwakilan penari sodor dari 11 desa selesai. (sid/hn) Editor : Jawanto Arifin