Santoko Purwono, petani asal Tosari mengaku sudah rugi. Pada musim tanam kali ini, dirinya menanam kentang seluas sekitar 5 hektare. Bibit kentang telah berumur sekitar dua bulan. Belum waktunya panen.
Hanya kentang yang ditanamnya pada musim tanam ini. Masalahnya, beberapa hari terakhir, daun-daun tanaman kentang itu terlihat menguning, kemudian menghitam. Seperti terbakar daunnya. Petani menyebutnya dengan istilah terserang embun upas.
”Gosong. Punya saya, dari lima hektare, yang terkena 1 hektare,” katanya.
Menurut Santoko, jika terkena embun upas, tanaman tidak bisa diselamatkan. Dia sudah mencoba melakukan panen dini khusus tanaman yang sudah gosong. Tapi, hasilnya tak dapat apa-apa. Kentang masih kecil. Tak laku dijual.
”Ya saya rugi banyak. Ada kira-kira Rp 25 sampai Rp 30 juta. Ini biaya produksinya,” ungkap Santoko.
Tidak hanya tanaman kentang yang terserang embun upas. Dimas, petani bawang perei asal Desa Baledono, Kecamatan Tosari, menyebutkan, sekitar 0,5 hektare tanaman bawangnya rusak. Gejalanya sama. Daun menguning, kemudian gosong.
"Kayaknya karena hawa dingin ini. Ada bintik-bintik kuning. Kalau rugi ya sekitar Rp 10 juta," katanya.
Nanang, Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) di Kecamatan Tosari mengaku belum ada laporan resmi terkait kejadian itu. Namun, dia membenarkan bahwa banyak tanaman petani yang rusak. Bawang perei tanaman miliknya juga mati.
"Punya saya dan mertua juga mati. Tapi, kami belum bisa memastikan penyebabnya. Yang pasti gejalanya kuning, kemudian kayak terbakar itu," tuturnya.
Sementara itu, kerusakan tanaman kentang, menurut dia, mungkin bukan karena embun upas, melainkan karena penyakit lain. Dia juga belum bisa memastikan apa penyakit itu. "Kayaknya karena cacing akar. Jadi, tanamannya kuning dan mati. Pastinya masih kami cari tahu," tutur Nanang. (sid/far) Editor : Jawanto Arifin