”Sudah menyempit. Banyak sampah berserakan di sungai,” ungkap Mulyono kepada Jawa Pos Radar Bromo kemarin (25/7).
Dia mengaku tahu benar perkembangan kondisi Kali Gembong dari waktu ke waktu. Sebab, sejak kecil, Mulyono memang tinggal di kampung Kandangsapi. Seingat dia, baru dua kali normalisasi dilakukan terhadap Sungai Gembong. Yang pertama sampai selesai.
”Yang kedua belum tuntas sampai sekarang,” ungkapnya.
Menurut dia, warga sulit mengakses ke sungai tersebut. Misalnya, untuk menghalau sampah yang dibuang orang-orang tidak bertanggung jawab. Kalau ada orang tenggelam pun, misalnya, sulit bagi warga untuk menolongnya. Sebab, jarak antara permukaan sungai dengan jalan kampung sekitar 5 meter. Warga pun menyiapkan sebuah tangga sendiri di kolong jembatan Jalan WR Supratman.
Hal senada diungkapkan Warsito, warga RT 5/RW 3, Kelurahan Bugul Lor, Kecamatan Panggungrejo. Dia mengaku biasa memancing ikan di Sungai Gembong. Namun, selalu terganggu oleh datangnya sampah yang hanyut di kali.
”Kadang kailnya bergerak, dikira umpan dimakan ikan. Ternyata kail tersangkut sampah itu,” ujar lelaki 72 tahun tersebut.
Jawa Pos Radar Bromo berusaha mendatangi Kantor Dinas Sumber Daya Air, Cipta Karya, dan Tata Ruang Kota Pasuruan, pada Senin pukul 09.00. Namun, satpam kantor tersebut tidak memperkenankan masuk. (mg/far) Editor : Ronald Fernando