MUKHAMAD ROSYIDI, Tosari, Radar Bromo
“RONI...Fendi...”
Begitulah suara teriakan-teriakan petugas yang kerap diucapkan tim penyelamat saat mencari korban. Mereka berteriak di sekitar tebing, pos Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) hingga di wilayah lautan pasir Bromo.
Pencarian bukan hanya dari tim penyelamat. Pihak keluarga juga ikut datang selama beberapa hari. Mereka masih yakin Fendi hanya tersesat dan bisa ditemukan dalam kondisi selamat.
https://radarbromo.jawapos.com/pasuruan/22/06/2022/kondisi-fendi-lemas-saat-ditemukan-di-tebing-yang-curam/
Salah satu pihak keluarga yang terlihat adalah Muliadi. Kakak ipar korban yang juga asli Wendit, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang tersebut sudah dua hari berada di kawasan TNBTS tepatnya di Desa Winokitri, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan. Bersama saudaranya yang lain, ia berusaha mencari keberadaan Fendi, yang sejak Minggu (19/6) lalu dikabarkan hilang di kawasan Bromo.
Fendi berpamit hendak ke Bromo pada Sabtu (18/6) malam sekitar pukul 22.00. Ia pergi bersama rekannya lewat jalur Purwodadi, Pasuruan. Usai berwisata, di hari Minggu Fendi tiba-tiba berniat pulang duluan. Pada pukul 15.38 ia dikabarkan hilang. Hanya motor, helm, handphone, jaket serta sepatunya saja yang ditemukan. Tergeletak di pinggir jalan di area plataran sebelum dingklik dari lautan pasir.
"Semoga cepat ketemu. Kami sangat khawatir," kata pria yang akrab disapa Cak Mul yang saat itu ditemui di dekat lokasi motor adik iparnya ditemukan.
Di dekat motor milik Fendi, terlihat barang-barang seperti pisang dan dupa. Benda-benda bak menjadi sesajen yang sengaja ditaruh dan dipercaya bisa menjadi sarana untuk mempermudah mencari Fendi. Dekat benda-benda itu juga diletakkan baju dan sepatu milik Fendi.
Sebelum Fendi ditemukan, raut wajah Mul terlihat cemas. Sembari berusaha melawan dinginnya udara Bromo, ia tetap tegar. Berusaha terus mencari keberadaan Fendi. Mondar-mandir, sesekali melihat handphone yang dipegangnya. Siapa tahu, ada kabar anak ketiga dari mertuanya itu ketemu.
Sesekali, ia duduk ditemani oleh dua adiknya yang juga merupakan saudara kandung dari Fendi. Mereka sama, harap-harap cemas tentang keberadaan Fendi.
"Anaknya baik. Bahkan sebelum ke Bromo berpamitan kepada kami sekeluarga," ujar Reza, saudaranya yang lain.
Selain mereka bertiga, di lokasi juga telah tersebar dari tim Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dari Kabupaten Malang. Serta juga dari relawan dan petugas TNBTS. Mereka menyusuri Bukit Pusung Duwur, dan tebing di bawah lokasi penemuan barang-barang pribadi Fendi. Tapi hasilnya nihil.
Hingga Senin sore, petugas tidak menemukan yang bersangkutan. Alhasil, tim ditarik kembali ke pos Wonokitri. Jarak dari lokasi pencarian sekitar kurang lebih 13 kilometer.
Di pos petugas istirahat sejenak. Sembari membahas rencana pencarian yang akan dilakukan Selasa (21/6) dan juga menunggu tim lain yakni dari Basarnas Surabaya dan BPBD Kabupaten Pasuruan."Kami berharap segera ditemukan. Kasihan pasti kedinginan," ujar Mul sebelum pencarian ditutup pada hari itu.
Selasa sekitar pukul 09.00, pencarian dilanjut. Pasukan berkumpul dalam apel. Di hari ketiga, personel bertambah banyak. Tujuannya agar korban bisa segera diketemukan dengan kondisi selamat.
Setelah apel, personel disebar. Mereka memperluas area pencarian. Baik ke utara mendekati dingklik hingga ke selatan mendekati lautan pasir. Teriakan panggilan terhadap korban, semakin dikeraskan. Berharap suara teriakan didengar tim maupun keluarga.
Satu jam, dua jam pencarian belum menemukan hasil. Tapi tim tak tak putus asa. Semuanya masih saja mencari dan berdoa agar Fendi bisa diketemukan.
Menjelang siang, tim juga mberupaya membujuk keluarga. Termasuk kepada Mul. Mereka disarankan untuk pulang. Karena mereka tidak membawa pakaian hangat. Sehingga mereka pun pulang. Namun hanya Mul yang memilih bertahan.
"Saya sendirian sekarang. Dua adik saya sudah pulang karena tidak memungkinkan. Jadi saya yang menunggui pencarian ini," katanya dengan suara bergetar saat itu.
Oleh personel BPBD, Mul tak diperbolehkan turun untuk ikut mencari. Ia disarankan berada di pos TNBTS. Sembari menunggu kabar dari tim di lapangan. "Katanya saya di pos saja. Biar teman-teman yang mencari," ujar pria yang juga anggota BPBD Kabupaten Malang itu.
Sekitar pukul 12.00 tim pencari yang menunu ke arah Dingklik menemukan sebuah petunjuk. Sepasang kaos kaki yang diduga kuat milik Fendi ditemukan tergeletak di pinggir jalan. Panggilan pun semakin dikencangkan oleh mereka.
"Roni...Roni...Ron...," teriak petugas dan relawan yang turut membantu pencarian tersebut.
Teriakan kemudian bersahut. "Aku Roni," sebuah suara datang dari arah bawah. Mendengarnya, tim gabungan langsung mencari sumber suara. Mereka turun ke tebing yang diperkirakan setinggi 200 meter. Sembari memanggil namanya.
Benar saja. Tim lalu melihat seorang remaja duduk lemas dengan memakai kaos merah dan celana krem terlihat. Itulah Fendi yang tiga hari ini mereka cari.
"Alhamdulillah, korban ketemu dengan kondisi selamat," kata Adhie Komandan Regu (Danru) dari Basarnas Surabaya.
Saat ditanya petugas, Fendi masih sadar. Ia sempat ditanyakan nama dan tempat asal. Dengan jelas ia menyampaikan alamatnya kepada petugas.
Anehnya, meski ditemukan di jurang yang curam, kondisi Fendi tanpa luka-luka. Hanya ada luka beret yang kemungkinan terjadi akibat kena ranting pohon. Padahal jika seseorang jatuh dari tebing, korban paling tidak bisa mengalami cedera parah.
Saat itu kondisi Fendi hanya lemas. Wajar saja. Dia tak makan selama tiga hari. Untung saja Fendi bisa beradaptasi dengan cuaca Bromo. Meski pakaian yang dikenakannya terbilang minim.
Setelah diselamatkan, ia langsung dibawa ke Pos TNBTS di Wonokitri. Ia langsung diperiksa untuk mengetahui kondisinya. Setelah selesai, baru kemudian ia dibawa pulang oleh saudaranya. (fun) Editor : Jawanto Arifin