Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan mencatat, jumlah ternak yang terinfeksi sudah di atas seribu ekor. Baik ringan sampai berat. Yang mati 12 ekor. Penularan virus terjadi karena lalu lintas ternak belum bisa dikendalikan. Pasar-pasar hewan memang masih ditutup. Namun, jual-beli tetap terjadi di luar pasar.
Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Pasuruan Diana Lukita Rahayu menyebutkan, sapi yang mati itu masing-masing ditemukan di Kecamatan Lumbang 10 ekor dan Purwosari 2 ekor.
Kematian sapi itu terjadi akibat terlambatnya penanganan ternak sejak diketahui sakit. Kondisinya telanjur parah. Karena itu, dia menegaskan lagi imbauan agar para peternak segera melapor. Sebab, jika penyakit cepat diobati, tidak akan sampai terjadi kematian. Sebab, PMK bisa disembuhkan asal tidak terlambat ditolong.
”Ini terlambat ditangani. Karena itu upaya pencegahan terus kami lakukan. Kami imbau lagi masyarakat segera memberi tahu kami jika hewan ternaknya mengalami tanda-tanda PMK,” katanya.
Diana yakin hewan ternak yang sakit PMK akan sembuh. Sebab, faktanya, penyakit ini memang bisa disembuhkan. Jangan sampai sapi telanjur ambruk. Tidak mampu berdiri. Kukunya bernanah. Dari mulutnya keluar busa. Itu bisa berakibat kematian. ”Kami bisa cepat menanganinya dan bisa sembuh,” jelasnya.
Secara terpisah, Wakil Bupati Mujib Imron menegaskan, yang harus diutamakan adalah keselamatan ternak. Para blantik sapi diminta menahan diri dulu. Tidak melakukan jual beli sapi dari luar daerah. Dengan begitu, lalu lintas ternak bisa dikendalikan.
”Itu yang harus dipahami bersama,” tuturnya.
Sejauh ini, Pemkab Pasuruan terus berkoordinasi dengan Pemprov Jatim hingga pemerintah pusat. Pemkab terus berikhtiar. Mengikuti arahan dari menteri dan gubernur tentang bagaimana penanganan PMK agar tidak semakin meluas.
”Tapi, ikhtiar juga harus dilakukan oleh masyarakat, terutama pemilik, peternak, dan blantik sapi," tegas Gus Mujib, panggilan akrabnya. (sid/far) Editor : Jawanto Arifin